Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Kenapa Orang Sekarang Gampang Baper? Ada Luka Lama yang Belum Sembuh

Baper atau sifat mudah tersinggung tidak selalu datang tiba-tiba. Ada banyak hal yang membentuknya, bahkan sejak seseorang masih kecil.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
zoom-in Kenapa Orang Sekarang Gampang Baper? Ada Luka Lama yang Belum Sembuh
Aplikasi CICI
ILUSTRASI BAPER - Seorang wanita baper alias terbawa perasaan. Gambar ini dibuat menggunakan aplikasi CICI, Jumat (15/8/2025). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Istilah “baper” merupakan akronim frasa "terbawa perasaan" sudah menjadi bahasa gaul sehari-hari di Indonesia. 

Singkatan dari bawa perasaan, kata ini biasanya disematkan kepada seseorang yang dianggap mudah tersinggung, bahkan untuk hal-hal kecil. 

Namun, di balik candaan, fenomena baper ternyata punya akar yang lebih dalam, melibatkan faktor psikologis, pengalaman masa lalu, pola asuh, hingga pengaruh budaya dan media sosial.

Psikolog Hernita Wijayaratna, M.Psi., mengungkap bahwa sifat mudah tersinggung tidak selalu datang tiba-tiba. 

Baca juga: Bisa Picu Risiko Kematian, Psikolog Bagikan Tips Atasi Kesepian Kronis

Ada banyak hal yang membentuknya, bahkan sejak seseorang masih kecil.

“Banyak faktor ya sebenarnya. Misalnya memang punya kepekaan yang tinggi, pengalaman masa lalu yang negatif, atau kurangnya keterampilan sosial sejak kecil,” jelas Hernita pada talkshow kesehatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan secara virtual, Jumat (15/10/2025). 

Baper Bukan Sekadar Emosi Negatif

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam dunia psikologi, baper sering dikaitkan dengan munculnya emosi negatif seperti marah, sedih, atau bingung. 

Semua orang punya emosi negatif maupun positif. Yang membedakan adalah cara mengelolanya.

Menurut Hernita, orang yang tingkat “cedera emosinya” rendah biasanya lebih cepat bereaksi terhadap pemicu, atau stimulus, yang mengganggu perasaan. 

Hal ini membuat mereka cenderung reaktif berlebihan.

Misalnya, sebuah komentar yang sebenarnya netral bisa memicu dua reaksi berbeda. 

Ada orang yang menanggapi dengan santai, bahkan sambil bercanda, tapi ada juga yang langsung tersinggung atau marah.

Di sinilah pengalaman masa lalu, pola asuh, dan nilai-nilai budaya berperan besar. 

Seseorang yang pernah dibully atau direndahkan cenderung lebih sensitif terhadap situasi yang mirip dengan pengalamannya dulu.

Media Sosial: Arena Pemicu Baper

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas