Janji Manis Berujung Penipuan, Love Bombing Jadi Alarm Hubungan Daring
Modus ini kerap menyamar sebagai kisah cinta ideal, namun berujung pada kerugian finansial dan trauma emosional.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Penipuan asmara dengan modus love bombing semakin marak di ruang digital dan menjerat korban lintas usia
- Pelaku memanipulasi emosi melalui perhatian berlebihan dan janji masa depan, lalu berujung pada permintaan uang atau akses finansial
- Data IASC mencatat ribuan kasus love scamming dengan kerugian puluhan miliar rupiah, sehingga kewaspadaan publik menjadi kunci pencegahan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penipuan asmara dengan modus love bombing kian marak di ruang digital dan menjerat korban lintas usia serta latar belakang.
Modus ini kerap menyamar sebagai kisah cinta ideal, namun berujung pada kerugian finansial dan trauma emosional.
Love bombing merupakan pola manipulasi psikologis ketika pelaku memberikan perhatian berlebihan, pujian intens, serta janji masa depan dalam waktu singkat untuk membangun kedekatan emosional secara instan.
Setelah kepercayaan korban terbentuk, pelaku mulai memanfaatkan situasi tersebut, umumnya dengan meminta uang atau akses finansial.
Baca juga: Pengakuan Yoshi Sudarso, Pernah Love Bombing karena Terpengaruh Film Romantis
Fenomena ini menjadi perhatian Detektif Jubun, pendiri Aman Sentosa Investigation Agency (ASIA), yang telah lebih dari 16 tahun menangani kasus perselingkuhan, penipuan asmara, hingga pencarian orang hilang.
Ia menegaskan bahwa love bombing bukanlah bentuk cinta yang sehat.
“Cinta yang sehat tidak terburu-buru. Dalam love bombing, kedekatan emosional dipercepat secara tidak wajar untuk menurunkan kewaspadaan korban,” ujar Jubun.
Pola Umum Penipuan Love Bombing
Menurut Jubun, sebagian besar kasus berawal dari perkenalan melalui media sosial atau aplikasi kencan.
Pelaku biasanya membangun citra meyakinkan dengan mengaku sebagai profesional sukses, duda atau janda, atau bekerja di luar negeri.
Dalam hitungan hari atau minggu, mereka sudah berbicara soal cinta, pernikahan, hingga rencana hidup bersama.
Tahap berikutnya adalah penciptaan krisis fiktif, seperti masalah bisnis, biaya kesehatan, pajak, atau tawaran investasi mendesak.
“Polanya konsisten: korban dibuat merasa istimewa, lalu diminta membantu secara finansial. Setelah itu, permintaan terus berulang,” katanya.
Ia menambahkan, korban terbanyak berada pada rentang usia 30–55 tahun, meski laki-laki juga tidak luput menjadi sasaran.
Banyak Korban Tak Langsung Melapor
Baca tanpa iklan