Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Lifestyle
LIVE ●

Ziarah Kubur Jelang Ramadhan: Tradisi Mendoakan Leluhur dan Peringatan Buat yang Hidup

Dosen IAIN Metro Lampung, Muhammad Nasrudin menjelaskan tentang tradisi ziarah makam atau biasa yang disebut dengan nyadran.

Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat di Indonesia banyak yang melakukan tradisi ziarah kubur atau yang sering disebut nyadran.
  • Menanggapi hal tersebut, Dosen IAIN Metro Lampung, Muhammad Nasrudin menjelaskan bahwa tujuan utama ziarah kubur adalah untuk mengingatkan umat Islam akan hari kematian.
  • Dalam penjelasannya, Nasrudin juga menerangkan tentang etika fisik terhadap makam.

TRIBUNNEWS.COM - Menjelang bulan suci Ramadhan, tradisi ziarah kubur atau yang sering disebut sebagai nyadran kembali menjadi tumpuan masyarakat Islam di pelbagai wilayah.

Amalan ini bukan sekadar adat turun-temurun, malah mempunyai landasan syariat yang kuat sebagai wasilah mendoakan ahli keluarga yang telah tiada.

Dalam program OASE Tribunnews, Dosen IAIN Metro Lampung, Muhammad Nasrudin menjelaskan bahwa tujuan utama ziarah kubur adalah untuk mengingatkan umat Islam akan hari kematian.

"Rasulullah SAW dahulu pernah melarangnya, namun kemudian membolehkannya kerana ziarah kubur dapat melembutkan hati dan memberi kesedaran bahawa setiap yang hidup pasti akan kembali kepada-Nya," ujarnya dalam tayangan YouTube OASE Tribunnews.com yang tayang pada 4 Maret 2022.

Meskipun doa bisa dipanjatkan kapan saja, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan melakukan ziarah massal di akhir bulan Sya'ban.

Hal ini merujuk pada peristiwa saat Sayyidah Aisyah RA mendapati Rasulullah SAW sedang mendoakan ahli kubur di Makam Baqi pada malam Nisfu Sya'ban.

Rekomendasi Untuk Anda

"Para ulama berpendapat bahwa bulan Sya'ban adalah waktu di mana Allah menurunkan banyak ampunan (maghfirah). Oleh karena itu, mendoakan orang tua di waktu tersebut sangat dianjurkan sebagai persiapan menyambut Ramadan," kata Nasrudin.

Selain untuk datang mendoakan jenazah, Nasrudin juga mengingatkan tentang etika fisik terhadap makam.

Banyak peziarah yang membersihkan makam hingga gundul tanpa menyisakan rumput sama sekali.

Nasrudin mengingatkan bahwa rumput yang masih hidup atau basah memiliki keistimewaan.

Tumbuhan yang masih hijau di atas pusara, kata Nasrudin, dipercayai bertasbih dan tasbihnya tersebut dapat meringankan beban si jenazah.

Baca juga: 9 Hal yang Dapat Membatalkan Puasa Ramadhan, Muslim Perlu Tahu

Peziarah disarankan hanya merapikan rumput yang sudah kering atau terlalu semak, bukan mematikan seluruhnya.

Sementara untuk tradisi menyiram air dan menabur bunga bukan sekadar hiasan.

Nasrudin mengatakan selama bunga tersebut masih basah dan segar, ia akan terus mendoakan si mayit.

Terkait pertanyaan masyarakat mengenai boleh tidaknya wanita hamil atau sedang haid berziarah, Nasrudin memberikan penjelasan yang menenangkan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas