Mengenal Apa Itu Lebaran Ketupat dan Filosofinya
Mengenal lagi Lebaran Ketupat dengan tradisi makan bersama dan saling bersilaturahmi pada 8 Syawal atau sepekan setelah 1 Syawal.
Penulis:
Suci Bangun Dwi Setyaningsih
Editor:
Febri Prasetyo
Simbol Kebersihan
Sementara itu, menurut budayawan Indonesia bernama H. Suyadi, Lebaran Ketupat merupakan simbol dari kebersihan hati dan pentingnya rasa saling menghormati antar sesama.
"Ini lebih dari sekadar ritual, namun sebuah cara untuk mempererat tali silaturahmi dalam keluarga dan masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, makna lain, ketupat memiliki hubungan erat dengan filosofi "pulang ke fitrah", menggambarkan kembali kepada keadaan suci setelah berpuasa.
Diberitakan Tribunnews, ketupat yang terbuat dari daun kelapa atau disebut janur ini bukan hanya makanan, namun cermin dari ketulusan dan kesederhanaan hidup.
Tradisi Lebaran Ketupat ini juga memberikan dampak sosial. Pasalnya, setiap tahun masyarakat saling mengunjungi, membagikan ketupat, dan berinteraksi dengan lebih erat.
"Perayaan Lebaran Ketupat mengajarkan kita pentingnya menjaga hubungan sosial dan rasa solidaritas."
"Ini adalah tradisi yang membangun kekuatan komunitas dan meningkatkan rasa kepedulian satu sama lain," tambahnya.
Selain berdampak sosial, juga bernilai ekonomi. Sebab, sebagian orang yang tak bisa membuat ketupat sendiri, perlu membelinya ke pihak yang menjual. Hal itu, mendorong perputaran uang bagi masyarakat.
Baca juga: Diskon Tol 30 Persen Arus Balik Lebaran 2026 Masih Berlaku, Cek Rute dan Tarifnya
Proses Pembuatannya
Ketupat atau disebut kupat dibuat dari beras yang telah dicuci.
Kemudian, ketupat direndam dengan air beberapa waktu, lantas dimasukkan ke dalam selongsong (wadah) dari janur kelapa.
Lantas, ketupat siap dimasak dan ditunggu beberapa waktu, hingga matang dan dihidangkan dengan aneka sayur berkuah santan kelapa.
Biasanya sayur berkuah yang pas untuk makan ketupat, yaitu sayur gori, tempe, tahu, kacang panjang dan ikan asap.
Ada juga beberapa warga yang memilih untuk membuat sayur opor daging ayam.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, Glery Lazuardi)
Baca tanpa iklan