Kemenkes Soroti Dampak WFH: Fleksibel tapi Berisiko Kesepian dan Burnout
Pemerintah resmi menerapkan kebijakan WFH bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) satu hari dalam seminggu, yaitu setiap hari Jumat, mulai 1 April 2026.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Willem Jonata
TRIBUNNEWS.COM,
Ringkasan Berita:
- Pemerintah resmi menerapkan kebijakan WFH bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) satu hari dalam seminggu, yaitu setiap hari Jumat, mulai 1 April 2026
- Efek dampak WFH terbagi dua, positif dan negatif. Bergantung pada dukungan organisasi, kondisi rumah, dan akses layanan kesehatan jiwa
- Adapun kelompok rentan yang berisiko mengalami kecemasan dan depresi adalah mereka yang tinggal sendiri di rumah atau orang yang baru masuk kerja, pekerja dengan ruang kerja terbatas
JAKARTA - Kementerian Kesehatan mengungkapkan dampak negatif dan positif kebijakan work from home (WFH) bagi pekerja.
Pemerintah resmi menerapkan kebijakan WFH bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) satu hari dalam seminggu, yaitu setiap hari Jumat, mulai 1 April 2026.
Kebijakan berdasarkan SE Menteri PANRB No. 3 Tahun 2026 ini bertujuan menghemat energi, mengurangi mobilitas, dan meningkatkan produktivitas, serta tetap menjamin gaji penuh dan kinerja tanpa memotong cuti.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi menyebut, dampak WFH tidak bisa digeneralisasi sebagai sepenuhnya positif atau negatif.
Baca juga: WFH Sehari untuk ASN Dinilai Adaptif Hadapi Tantangan Geopolitik
Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti dukungan dari organisasi, kondisi lingkungan rumah, serta akses terhadap layanan kesehatan mental.
"Efek dampak WFH itu positif atau negatif itu bergantung pada dukungan organisasi, kondisi rumah, dan akses layanan kesehatan jiwa," tutur Imran saat dihubungi Tribunnews.com, Senin (6/4).
Lebih lanjut, ia merinci bahwa dampak positif WFH meliputi meningkatnya waktu bersama keluarga, penghematan energi, berkurangnya tekanan dari perjalanan harian, kemudahan dalam menghadiri pertemuan daring, serta meningkatnya fokus kerja berkat fleksibilitas yang ada.
Sementara itu, dampak negatif yang mungkin muncul antara lain rasa isolasi sosial, terganggunya rutinitas harian, kesulitan memisahkan jam kerja sehingga berpotensi mengalami kelelahan berlebih, keterbatasan bagi pekerja yang membutuhkan layanan tatap muka, serta gangguan dari lingkungan rumah yang dapat menurunkan konsentrasi.
Rentan Kesepian dan Kecemasan pada Kelompok Ini
Lebih lanjut Imran menyatakan, kebijakan WFH dapat meningkatkan kecemasan, kesepian, dan depresi.
"WFH mengurangi interaksi tatap muka dan dukungan sosial informal, yang merupakan pelindung penting terhadap stres dan depresi," tutur dia.
Batas kerja rumah yang kabur meningkatkan beban kerja emosional dan risiko kelelahan (burnout) sehingga memicu kecemasan.
Adapun kelompok rentan yang berisiko mengalami kecemasan dan depresi adalah mereka yang tinggal sendiri di rumah atau orang yang baru masuk kerja, pekerja dengan ruang kerja terbatas (apartemen kecil di kota seperti Jakarta) serta memiliki riwayat gangguan mental.
Ia menjelaskan, WFH dapat memperburuk kecemasan, kesepian, dan depresi karena kurangnya interaksi singkat di kantor (obrolan, dukungan rekan).