Doa Setelah Salat Sunat Mutlak di Hijir Ismail saat Haji/Umrah
Jemaah haji/umrah disunahkan untuk sholat sunah dua rakaat di dekat Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim. Berikut ini doa setelah sholat di Hijir Ismail.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Garudea Prabawati
Oleh sebab itu, salat di sana memiliki nilai seperti salat di dalam Ka’bah, yang menjadi tempat suci dan penuh keberkahan.
Hal ini didasarkan pada hadis dari Aisyah binti Abu Bakar, bahwa ketika ia ingin masuk ke dalam Ka’bah untuk salat, Nabi Muhammad bersabda: “Salatlah engkau di Hijr, karena sesungguhnya Hijr itu bagian dari Ka’bah” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i).
Selain itu, keberadaan Hijr Ismail juga berkaitan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an untuk menjadikan tempat-tempat di sekitar Ka’bah sebagai lokasi ibadah, sebagaimana firman-Nya dalam QS.
Al-Baqarah ayat 125 tentang menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Hal ini menunjukkan bahwa area di sekitar Ka’bah, termasuk Hijr Ismail, merupakan tempat yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa.
Salat di Hijr Ismail tidak hanya bernilai ibadah biasa, tetapi juga menjadi simbol kedekatan seorang hamba dengan Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, serta memanfaatkan tempat mustajab untuk bermunajat dengan penuh kekhusyukan.
Sejarah Kabah dan Hijir Ismail
Sejarah Hijr Ismail berkaitan erat dengan perubahan bentuk Ka’bah dari masa ke masa, menurut penjelasan dalam laman Kementerian Agama.
Pada awalnya, ketika Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail, area yang sekarang dikenal sebagai Hijr Ismail sebenarnya termasuk bagian dari bangunan Ka’bah.
Namun, saat kaum Quraisy merenovasi Ka’bah sebelum masa kenabian Nabi Muhammad, mereka mengalami keterbatasan bahan dan biaya, sehingga tidak mampu membangun Ka’bah sesuai ukuran aslinya.
Akibatnya, sebagian area Ka’bah—yakni Hijr Ismail—dibiarkan berada di luar bangunan utama dan hanya diberi pembatas setengah lingkaran.
Dalam perjalanan sejarah, Abdullah bin Zubair pernah mengembalikan Ka’bah sesuai bentuk awalnya, yaitu memasukkan kembali area Hijr Ismail ke dalam bangunan Ka’bah serta menambahkan dua pintu.
Namun, perubahan ini tidak bertahan lama karena pada masa kekuasaan Abdul Malik bin Marwan, melalui perintahnya kepada Al-Hajjaj, Ka’bah dikembalikan lagi ke bentuk seperti yang dibangun oleh kaum Quraisy, sehingga Hijr Ismail kembali berada di luar bangunan.
Sejak saat itu hingga sekarang, Hijr Ismail tetap berada di luar struktur utama Ka’bah, meskipun secara hakikat tetap dianggap sebagai bagian dari Ka’bah.
Oleh karena itu, tempat ini memiliki keutamaan khusus dan menjadi salah satu area yang sangat dianjurkan untuk beribadah dan berdoa.
Dalam beberapa riwayat, disebutkan pula bahwa di area Hijr Ismail terdapat makam Siti Hajar, bahkan sebagian pendapat menyebutkan juga terkait dengan Nabi Ismail, meskipun kepastiannya masih menjadi perbedaan pendapat, seperti dijelaskan Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar, Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal dalam laman UIN Jakarta.
Secara simbolik, Hijr Ismail mengingatkan umat Islam pada keteguhan dan kesabaran Siti Hajar dalam menjalani ujian hidup, yang kemudian melahirkan generasi mulia hingga Nabi Muhammad SAW.
Karena nilai sejarah dan spiritualnya yang tinggi, Hijr Ismail menjadi salah satu tempat yang sangat dimuliakan dan selalu dipadati jemaah dari berbagai penjuru dunia.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan