Mendengar dengan Hati, Menemukan Keajaiban Komunikasi Anak Autis Lewat 'Naya dan Talkernya'
Buku 'Naya dan Talkernya' mengangkat kisah seorang anak autis non-verbal yang mulai menemukan cara berkomunikasi melalui talker.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
“Saya berharap Gerakan “Setiap Anak Punya Suara” dapat mendorong kesadaran, empati, dan pemahaman publik terhadap anak autis non-verbal. Anak-anak ini juga membutuhkan ruang, dukungan, dan kesempatan untuk didengar,” jelasnya.
Kegiatan di Gramedia Matraman ini juga mendapat dukungan dari PT Karya Citra Nusantara (KCN) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Perusahaan tersebut selama ini bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Disabilitas Rumah Autis Depok Yayasan Cagar dalam mendukung edukasi serta peningkatan kesadaran publik terhadap anak autis non-verbal.
Public Relation Supervisor KCN, Bella Mardiana, mengatakan dukungan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi anak berkebutuhan khusus.
“Kolaborasi dan gerakan yang digaungkan hari ini memiliki kesinambungan yang kuat dengan berbagai inisiatif sosial yang sebelumnya telah dijalankan melalui program CSR KCN,” papar Bela pada kesempatan yang sama.
Tak hanya menjadi tempat membeli buku, Gramedia Matraman dalam acara ini juga berubah menjadi ruang bertemunya cerita, edukasi, dan dukungan emosional bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus.
Pembina dan Ketua LKS Disabilitas Yayasan Cagar Rumah Autis Depok, Suyono, mengatakan dukungan lingkungan sangat penting bagi perkembangan anak autis non-verbal.
“Kami percaya kolaborasi antar orang tua, guru dan masyarakat merupakan kunci penting karena dapat membantu membuka wawasan masyarakat bahwa anak autis non-verbal bukan tidak mampu berkomunikasi, melainkan memiliki cara komunikasi yang berbeda. Dukungan dari berbagai pihak akan sangat berarti bagi perkembangan mereka,” ujar Suyono.
Sementara itu, terapis anak berkebutuhan khusus dari Jakarta Behaviour Center (JBC), Andrea, menilai edukasi publik menjadi langkah penting agar anak merasa lebih aman saat mencoba mengekspresikan dirinya.
“Ketika lingkungan memahami cara anak berkomunikasi, anak akan merasa lebih aman dan percaya diri untuk mengekspresikan dirinya. Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar anak-anak ini dapat berkembang secara optimal,” katanya.
Melalui acara ini, Gramedia Matraman bukan hanya menjadi lokasi peluncuran buku, tetapi juga simbol ruang inklusif di tengah masyarakat perkotaan yang mulai belajar mendengar suara anak-anak dengan cara berbeda.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan