Doa Tahlil Malam Jumat, Sarana Zikir dan Memohon Ampunan Allah SWT
Muslim diperbolehkan membaca rangkaian doa tahlil sebagai amalan doa dan dzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon ampunanNya.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Doa tahlil merupakan rangkaian zikir, doa, dan bacaan Al-Qur'an yang sering diamalkan umat Islam, baik untuk mendoakan orang yang telah meninggal maupun sebagai amalan zikir harian.
- Tradisi tahlilan di Indonesia umumnya dilaksanakan pada malam Jumat atau saat peringatan kematian.
- Rangkaian tahlil biasanya berisi bacaan surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, beberapa ayat Al-Baqarah, shalawat, serta doa-doa untuk kaum Muslimin.
TRIBUNNEWS.COM - Membaca doa tahlil merupakan salah satu tradisi di Indonesia yang dikaitkan dengan berdoa pada malam Jumat.
Kegiatan ini diisi dengan membaca dzikir, doa, dan ayat-ayat Al-Quran.
Tahlilan biasanya dilaksanakan pada malam pertama kematian, hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100, hingga peringatan tahunan atau haul.
Namun, membaca doa tahlil tidak selalu ditujukan untuk hal-hal terkait dengan memperingati hari kematian seseorang.
Membaca doa tahlil juga dapat dilakukan sebagai zikir dan ibadah harian, misalnya pada Kamis malam, yang diyakini sebagai hari saat amalan diperlihatkan kepada Allah SWT.
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda: "Amal-amal diperlihatkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis. Maka aku senang ketika amalanku diperlihatkan, aku sedang dalam keadaan berpuasa." (HR. At-Tirmidzi No. 747)
Selain itu, membaca doa tahlil pada Kamis malam dapat menjadi amalan untuk menyambut hari Jumat, yang dianggap sebagai hari besar umat Islam.
"Pada hari Senin dan Kamis, pintu-pintu surga dibuka dan Allah memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang tidak menyekutukan-Nya, kecuali mereka yang sedang bermusuhan hingga berdamai." (HR. Muslim)
"Sesungguhnya penghulu hari adalah hari jum'at, dan ia merupakan hari terbesar disisi Allah. Bahkan bagi-Nya ia lebih agung daripada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Padanya terdapat lima peristiwa penting yakni; Allah menciptakan Nabi Adam as., menurunkannya ke bumi (dunia) dan kemudian pada hari itu Allah mewafatkannya. Dalam hari itu terdapat suatu saat dimana tidak seorang hambapun memohonkan sesuatu, melainkan Allah akan mengabulkan nya sepanjang yang dipintanya itu bukanlah sesuatu yang haram. Dan pada hari jum'at itu kelak akan terjadi hari kiamat. Tidak ada satupun Malaikat muqarabin (Israfil), langit, bumi, angin, gunung-gunung dan lautan melainkan semuanya itu merasa segan pada hari jum'at." (HR. Ibnu Mâjah)
Mengenai kegiatan merutinkan doa tahlil, Kementerian Agama memperbolehkan umat Islam melakukannya selama hal itu tidak menyimpang dari ajaran Islam dan dilakukan sebagai amalan doa dan dzikir.
Mengutip buku TAHLIL ARWAH oleh Kementerian Keuangan dan Ekonomi Brunei Darussalam, berikut rangkaian doa tahlil yang dapat dibaca.
Baca juga: Bacaan Sayyidul Istighfar Allahumma Anta Rabbi, La ilaha illa Anta
Doa Tahlil
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اللَّهُمَّ صَلِّ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ وَاَوْصِلْ وَتَقَبَّلْ ثَوَاَبَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنْ الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَلْنَا وَمَا سَبَّحْنَا وَمَا اسْتَغْفَرْنَا وَمَا صَلَّيْنَا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً
اِلَى حَضْرَةِ حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ اَعْيُنِنَا سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاِلَى حَضَرَاتِ جَمِيْعِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ وَجَمِيْعِ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ. اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلَى أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ أَهْلِ لَاالَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَنَا صِغَارًا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سًبْحَانَ رَبَّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. اَلْفَاتِحَةْ
Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiina hamdan yuwaafii ni’amahu wa yukaafii maziidah. Yaa Rabbanaa lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthaanik.
Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad.
Allaahumma ij‘al wa awshil wa taqabbal tsawaaba maa qara’naahu minal-Qur’aanil-‘azhiim wa maa hallalnaa wa maa sabbahnaa wa mastaghfarnnaa wa maa shallainaa ‘alaa sayyidinaa Muhammadin shallallaahu ‘alayhi wasallam hadiyyatan waashilatan wa rahmatan naazilatan wa barakatan syaamilatan.
Ilaa hadhrati habiibinaa wa syafii‘inaa wa qurrati a’yuninaa sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadin shallallaahu ‘alayhi wasallam.
Wa ilaa hadhraati jamii‘i ikhwaanihi minal-anbiyaa’i wal-mursaliina wal-awliyaa’i wasy-syuhadaa’i wash-shaalihiina wash-shahaabati wat-taabi’iina wal-‘ulamaa’il-‘aamiliina wal-mushannifiina wa jamii’il-malaa’ikatil-muqarrabiina.