Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Siswa: Kami Bela Diri, Kenapa Kami yang Kena Skorsing?

6 pelajar SMAN 3 Jakarta Selatan terkena skorsing yang mereka anggap tak wajar. Mereka mengaku hanya membela diri saat bersitegang dengan orang luar

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Edwin Firdaus

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Edwin Firdaus

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Enam pelajar SMAN 3 Jakarta Selatan tak bisa mengikuti proses belajar mengajar seperti biasa. Hal tersebut terjadi lantaran mereka diganjar sanksi skorsing dari pihak sekolah yang mereka nilai sepihak.

Atas skorsing tersebut, keenam siswa itu mengaku kecewa pada keputusan sang kepala sekolah. Para siswa yang duduk di bangku akhir sekolah itu menganggap hukuman diberikan tanpa dasar yang jelas. Kekecewaan mereka bertambah, mengingat, ujian sekolah akan segara berlangsung.

"Kami kecewa atas skorsing ini. Ini (skorsing) nggak jelas. Kami jadi gak bisa sekolah. Padahal kami sebentar lagi mau ujian," kata P, seorang siswa yang diganjar skorsing, Rabu (4/2/2015).

P menuturkan, ada lima siswa lain yang bernasib sama dengannya yakni, HJP (perempuan), PRA, AEM, EMAA, dan MRPA. P menceritakan awal kasus yang berujung skorsing tersebut.

P bercerita, mulanya ada seorang temannya, PRA, sedang mengendarai motor di luar sekolahnya. Namun belum jauh dari sekolah, kata P, ada oknum yang mengaku-ngaku sebagai seorang polisi memberhentikan motor PRA lalu meminta surat-surat kedaraan.

P menyebut, karena sangsi pada penampilan yang memberhentikan motor, PRA tak mau menunjukkan surat kendaraan. Hal itu berujung pada cekcok mulut antara keduanya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kejadiannya waktu itu hari Jumat (30 Januari 2015). Nah, saat PRA tengah cekcok dengan yang memberhentikan motor, temen saya (HJP) datang, mau minta tugas. Eh, malah dideketin orang itu, terus dipegang-pegang," tutur P.

Karena melihat kejadian itu, P langsung menghampiri HJP, bersama beberapa teman-temannya.

"Saya tanya baik-baik dia dinas di mana, dia nggak jawab, malah nunjuk-nunjuk. Dia kayak mau mukul saya. Dia juga megang saya kayak polisi. Nah, saya kepancing, refleks mukul dia (oknum) duluan. Liat kita banyak, dia gak berani mukul. Ya sudah kita bawa ke polsek. Tapi tengah jalan dijegat temen-temen orang (oknum) itu. Terus dia, dibawa temen-temenya," ujarnya.

Tapi esok harinya, kata P, oknum tadi melaporkan P dan teman-temannya ke kepala sekolah atas tudingan pengeroyokan yang berujung hukuman skors tadi.

P mengatakan, ia dan teman-temannya menilai janggal hukuman kepala sekolah. P mengatakan, belakangan diketahui, sang pelapor ke kepala sekolah merupakn alumni sekolahnya dan tinggal dekat sekitar sekolah.

"Kami kan bela diri, kenapa malah jadi kena skorsing? Orang tadi malah dibelain," kata P bernada geram.

Atas skorsing yang dijatuhkan, sejumlah orangtua siswa mendatangi SMA 3 Setiabudi. Mereka datang untuk meminta klarifikasi dari pihak sekolah atas peristiwa dan sanksi yang menimpa anaknya.

Namun, seorang wali murid menyebut, tak mendapat penjelasan yang memuaskan dari pihak sekolah, terlebih soal detail alasan sanksi skorsing yang diberikan.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas