Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

100 Hari Berpulangnya Sitor Situmorang Sukses Dikemas Lewat 'Belajar Menjadi Indonesia'

Sebuah tajuk kegiatan mengenang seniman dan budayawan Indonesia tersebut telah digelar selama tiga hari sejak Senin (20/4).

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Rahmat Patutie
zoom-in 100 Hari Berpulangnya Sitor Situmorang Sukses Dikemas Lewat 'Belajar Menjadi Indonesia'
Tribunnews.com/Rahmat Patutie
Foto-foto Sitor Situmorang terpampang rapi di dinding-dinding. 

Sitor dilahirkan dengan nama Raja Usu. Dia menempuh pendidikan pendidikan di HIS di Balige dan Sibolga serta MULO di Tarutung kemudian AMS di Batavia (kini Jakarta). Pada tahun 1950-1952, Sitor sempat berkelana ke Amsterdam dan Paris. Selanjutnya, ia memperdalam ilmu memperdalam ilmu sinematografi di Universitas California pada tahun 1956-57.

Ia pernah menetap di Singapura (1943), Amsterdam (1950-1951), Paris (1951-1952), dan pernah mengajar bahasa Indonesia di Universitas Leiden, Belanda (1982-1990) dan bermukim di Islamabad, Pakistan (1991) dan Paris.

Sitor memulai kariernya sebagai wartawan Harian Suara Nasional (Tarutung, 1945-1946) dan Harian Waspada (Medan, 1947). Selanjutnya, ia menjadi koresponden di Yogyakarta (1947-1948), Berita Indonesia, dan Warta Dunia (Jakarta, 1957). Ia pernah menjadi pegawai Jawatan Kebudayaan Departemen P & K, dosen Akademi Teater Nasional Indonesia (Jakarta), anggota Dewan Nasional (1958), anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili kalangan seniman, anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan (1961-1962), dan Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959-1965). Pada masa pemerintahan Orde Baru, Sitor dipenjara sebagai tahanan politik di Jakarta mulai dari tahun 1967-1974.

Sedangkan kumpulan cerpennya antara lain, Pertempuran dan Salju di Paris (1956) mendapat Hadiah Sastra Nasional (1955) dan kumpulan sajak Peta Perjalanan memperoleh Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976.

- Sementara Karya-karyanya yang lain

Surat Kertas Hijau, kumpulan puisi (1954)

Jalan Mutiara, drama (1954)
Dalam Sajak, kumpulan puisi (1955)
Wajah Tak Bernama, kumpulan puisi (1956)
Rapar Anak Jalang (1955)
Zaman Baru, kumpulan puisi (1962)
Pangeran, kumpulan cerpen (1963)
Sastra Revolusioner, kumpulan esai (1965)
Dinding Waktu, kumpulan puisi (1976)
Sitor Situmorang Sastrawan 45, Penyair Danau Toba, otobiografi (1981)
Danau Toba, kumpulan cerpen (1981)
Angin Danau, kumpulan puisi (1982)
Bunga di Atas Batu, kumpulan puisi (1989)
Toba na Sae (1993) dan Guru Somalaing dan Modigliani Utusan Raja Rom, sejarah lokal (1993).

Rekomendasi Untuk Anda

Rindu Kelana, kumpulan puisi (1994)
Sitor juga menerjemahkan karya asing ke dalam bahasa Indonesia, yakni: Sel, terjemahan drama karya William Saroyan (1954), dan Hikayat Lebak karya Rob Nieuwenhuys (1977).

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas