Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

National Maritim Institute Prihatin Rencana Aksi Mogok Pekerja JICT

Dan, dalam setiap aksi memperjuangkan kehendak mereka itu mereka selalu menggunakan jargon untuk “kepentingan nasional”

National Maritim Institute Prihatin Rencana Aksi Mogok Pekerja JICT
KOMPAS IMAGES
Sejumlah truk kontainer melintas melalui gerbang otomatis Jakarta International Container Terminal (JICT) Jakarta 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sepak terjang Serikat Pekerja PT Jakarta International Container Terminal (JICT) yang kerap bersitegang dengan manajamen terkait tuntutan mereka atas pembayaran bonus tahunan.

Dan, dalam setiap aksi memperjuangkan kehendak mereka itu mereka selalu menggunakan jargon untuk “kepentingan nasional” dan mengancam akan melakukan aksi mogok kerja jika tuntutannya tidak disetujui.

Sehubungan dengan aksi mogok, Serikat Pekerja JICT merencanakan aksinya dilakukan di terminal yang dilayani perusahaan pada 3 hingga 10 Agustus 2017.

Beberapa waktu sebelumnya, Serikat Pekerja JICT juga merencanakan aksi yang sama namun batal digelar setelah berunding dengan pihak manajemen PT JICT.

National Maritime Institute (Namarin) merasa prihatin atas perkembangan yang ada karena dapat mempengaruhi pelayanan terhadap pengguna jasa yang bersandar di terminal yang dioperasikan oleh PT JICT.

Mengingat terminal tersebut merupakan salah satu mata rantai dari kegiatan kepelabuhanan atau logistik yang lebih luas, aksi mogok dipastikan akan mengganggu operasional fasilitas terkait.

“Pelabuhan itu milik publik, bukan miliknya SP JICT. Jangan sandera terminal dengan ancaman mogok terus-menerus,” kata Direktur Namarin Siswanto Rusdi dalam pernyataan persnya, Senin(31/7/2017).

Siswanto menilai ancaman mogok sudah menjadi senjata Serikat Pekerja JICT dalam memaksakan kehendak mereka.

Dan, mereka telah menyandera terminal peti kemas sebagai alat bargaining.

Karenanya, pada derajat tertentu, Serikat Pekerja JICT sudah melakukan abuse of power dari hak yang diberikan oleh UU kepada mereka.

Ditambahkannya, aksi mogok yang akan dilakukan oleh Serikat Pekerja JICT kehilangan semua alasan pembenar.

“Semua orang tahu pendapatan pekerja JICT paling tinggi se-Indonesia. Sehingga, keinginan mereka yang meminta perbaikan kesejahteraan melalui bonus terasa menampar harga diri pekerja lain yang masih berkutat memperjuangkan hak normatif mereka. Jadi, please, SP JICT berhenti membodohi publik dengan aksi mereka yang selalu dibungkus nasionalisme itu. Jangan sampai publik muak dengan mereka,” katanya.

Dia meminta Serikat Pekerja JICT mengurungkan niat menggelar aksi mogok dan fokus bekerja demi kelancaran proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Dengan bekerja benar para pekerja JICT akan dinilai publik sebagai manusia yang bersyukur atas kesejahteraan yang telah dinikmati selama ini," pungkas Siswanto.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas