Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
TribunNews | PON XX Papua
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Kecelakaan Kerja JICT Berujung Kematian Diduga Akibat Efisiensi Berlebihan

Berdasarkan data di JICT, dalam 14 bulan terakhir terjadi kecelakaan kerja tragis yang merenggut nyawa 3 orang pekerja.

Kecelakaan Kerja JICT Berujung Kematian Diduga Akibat Efisiensi Berlebihan
WARTA KOTA/BINTANG PRADEWO
Petugas kepolisian di lokasi kecelakaan kerja yang menimpa Fery Andriyanto, seorang pekerja Tally Man (pencatat turun naiknya kontener dari dan ke atas kapal) tewas karena kecelakaan kerja di dermaga utara CC. 14 JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (21/10/2017) malam. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tingginya jumlah kecelakaan pekerja yang terjadi di pelabuhan petikemas Jakarta International Container Terminal (JICT), bahkan berujung kematian, seharusnya disikapi serius oleh manajemen terminal.

Terakhir, kecelakaan kerja terjadi pada Sabtu (21/10) lalu menyebabkan asisten operator alat atas nama Ferry Andryanto meninggal seketika karena terkena kabel alat yang putus tiba-tiba dan mengenai dada serta leher korban.

"Kewajiban manajemen pelabuhan sekelas JICT adalah melaksanakan K3 ditambah dengan pengawasannya. Jangan cuma efisiensi berlebihan, akibatnya perawatan alat menjadi tidak prioritas dan suku cadang diturunkan kualitasnya," ujar Direktur Indonesia Port Watch (IPW) Syaiful Hasan, di Senayan, Jakarta, Senin (23/10/2017).

Kecelakaan kerja fatal di JICT sebenarnya sudah terjadi beberapa kali dalam kurun waktu 2 tahun terakhir.

Baca: Pengadilan Hubungan Industrial Menangkan Serikat Pekerja JICT

Mulai dari alat 'spreader' yang jatuh menimpa mobil perawatan, petikemas yang sedang diangkat merosot jatuh sampai kabel alat yang putus 2 kali.

Kecelakaan kerja yang terjadi secara sistemik, seolah disebabkan ketidakmampuan manajemen dalam melakukan perawatan alat.

Hal ini bisa jadi karena efisiensi yang disebabkan oleh perpanjangan kontrak yang berjalan paksa.

Tingginya uang sewa perpanjangan JICT tanpa melihat dampak keberlangsungan perusahaan, diduga menjadi pertimbangan utama manajemen dalam menjalankan kebijakan perawatan alat.

Alih-alih pekerja merasa aman saat melaksanakan tugas, manajemen seolah malah sibuk melakukan super efisiensi.

Baca: Pekerja JICT Kampanye Minta Dihargai

"Makanya saat ada pekerja meninggal tahun 2016, kami mendapat laporan, safety committee dari Hutchison Hong Kong langsung inspeksi. Tapi pekerja yang meninggal malah berulang kejadiannya," sebut Syaiful.

Berdasarkan data di JICT, dalam 14 bulan terakhir terjadi kecelakaan kerja tragis yang merenggut nyawa 3 orang pekerja.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas