Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Jaga Kerukunan, Kedamaian dan Jaga Rasa Keadilan Bagi Semua Orang kata Prof Dr Dede Rosyada MA

Kematangan demokrasi bangsa Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun usai pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) lima tahunan

Jaga Kerukunan, Kedamaian dan Jaga Rasa Keadilan Bagi Semua Orang kata Prof Dr Dede Rosyada MA
ist
Prof Dr. Dede Rosyada, MA 

Dirinya menyakini bahwa dalam konteks partisipasi politik semua masyarakat berpandangan sama untuk berpartisipasi. Namun dalam konteks kontestasi pasti masyarakat terbelah. Yang mana baik kalangan akademisi, birokrat, dan masyarakat profesional semuanya akan larut dalam berkompetisi.

“Namun setelah Pemilu mereka semua harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi, bahwa semua anak bangsa adalah satu sebagai bangsa Indonesia yang diikat oleh kesamaan cita-cita menuju masyarakat maju berkeadilan,” ujarnya.

Dengan demikian menurutnya, rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air akan mengalahkan egoisme kepentingan politik masing-masing. Akan tetapi, bagi para pekerja partai dan para pekerja politik, emosi kemenangan dankekalahan mereka bisa mengalahkan rasionalitasnya sendiri.

“Untuk itu, kita patut menghimbau agar mereka semuanya bisa kokoh dalam persaudaraan kebangsaan, jaga keutuhan bangsa, dan perkuat kesatuan demia masa depan bangsa Indonesia,” kata mantan Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama ini.

Dirinya juga meminta kepada masyarakat baik yang berpartsisipasi atau tidak  dalam Pemilu dan juga kepada pihak-pihak yang menjadi tim pemenangan satu paslon untuk dapat menciptakan prinsip kekeluargaan, gotong royong, musyarawah mufakat sesuai nila-nilai yang terkandung pada Pancasila. Hal ini agar sesame masyarakta tidak saling mencaci maki atau menabur kebencian usai pelaksnaan Pemilu tersebut.

“Sebaiknya semua tanya hati nurani masing-masing, sudahkan kita jujur dengan diri kita, bahwa kemenangan tersebutbukan kemanangan paslon atau calon anggota parleman kita. Tetapi kemenangan itu untuk bangsa yang telah bisa melaksanakan pemilu dengan baik. Karena siapapun pemenangnya adalah pemenang untuk kita semua. Tetapi semua lapisan pelaksana harus bersikap dan berlaku jujur,” tuturnya.

Diakuinya, memang banyak tokoh-tokoh agama, tokoh nasional maupun tokoh public yang masuk dalam kontestasi ini, sehingga kehilangan legitimasi untuk didengar oleh seluruh lapisan masyarakat, yang mana mereka ini kehilangan person figur yang bisa menjadi rujukan semua orang yang berbeda kepentingan.

“Dalam konteks ini, masyarakat hanya bisa berpegang pada ajaran yang mereka anut, bahwa persaudaraan kebangsaan merupakan bagian dari perilaku beragama. Oleh sebab itu, masyarakat tidak harus larut dalam saling menyalahkan satu sama lain, biarkan sistem yang mengelola semua proses demokrasi ini,” urai pria yang juga Dewan Pembina Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia ini.

Untuk itu dirimya meminta kepada para tokoh-tokoh untuk bisa memberikan cerminan atau contoh kepada masyarakat bahwa menjaga persaudaraan demi keutuhan bangsa itu lebih diutamakan daripada harus menjelek-jelekkan para paslon.

“Karena kalau saling hujat itu terjadi, yang ada malah membuat suasana kerukunan dan persaudaraan ini menjadi pecah. Untuk itu para tokoh masyarakat, agama dan publik mari bersama-sama untuk mengajak masyarakat untuk menciptakan perdamaian dan kerukunan,” paparnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Toni Bramantoro
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas