Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Internet Melonjak Selama Pandemi, Banyak Korban Takut Melapor

Kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) terhadap perempuan meningkat selama pandemi virus corona atau Covid-19.

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Internet Melonjak Selama Pandemi, Banyak Korban Takut Melapor
Kompas.com
Ilustrasi korban pelecehan seksual. Berikut ulasan tentang kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) terhadap perempuan yang meningkat selama pandemi virus corona atau Covid-19. 

TRIBUNNEWS.COM - Kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) terhadap perempuan meningkat selama pandemi virus corona atau Covid-19.

Hal itu disampaikan oleh Staf Pelayananan Hukum Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Jakarta, Tuani Marpaung dalam diskusi bertema 'Gerak Bersama, Ciptakan Ruang Aman di Masa Pandemi', Selasa (24/11/2020).

Tuani menyampaikan, terhitung sejak 16 Maret 2020 - November 2020, LBH APIK Jakarta telah menerima 710 pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan.

Sementara KBGO menjadi kasus nomor dua tertinggi yang dilaporkan LBH APIK Jakarta, yakni sebanyak 196 kasus.

Ilustrasi pelecehan
Ilustrasi pelecehan (Yonhap News)

Baca juga: LBH APIK Jakarta Beberkan Sederet Alasan Mengapa RUU PKS Harus Benar-benar Disahkan

Baca juga: Kasus Kekerasan Seksual Berbasis Siber Meningkat di Masa Pandemi, Komnas Perempuan Singgung RUU PKS

Untuk itu, Tuani menerangkan, ruang aman juga dibutuhkan dalam dunia digital, sebab perempuan rentan menjadi korban.

Mayoritas bentuk KBGO yang dilaporkan adalah pelecehan seksual secara online.

Juga ancaman penyebaran konten intim dengan motif eksploitasi seksual hingga pemerasan.

"Untuk kasus KBGO ini memang banyak sekali ada 196 kasus dan kasus yang paling banyak adalah penyebaran konten-konten intim," kata Tuani.

Dalam beberapa kasus yang ditangani LBH APIK Jakarta, Tuani menjelaskan penyebaran konten intim itu sengaja dilakukan pelaku untuk mengesploitasi korban.

Terlebih untuk mengeksploitasi secara ekonomi.

Ilustrasi media sosial.
Ilustrasi media sosial. (Tribun Jakarta/Net)

Baca juga: LBH APIK Ungkap Sulitnya Dampingi Korban Kekerasan Seksual Tanpa Payung Hukum: Itu Terobosan RUU PKS

Baca juga: Dilaporkan atas Kasus Dugaan Pelecehan Seksual, Wakapolres Takalar Dimutasi

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Inza Maliana
Editor: Gigih
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas