Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Menilik Srikandi Kampung Becek Bercocok Tanam di Lahan Bekas Puing Sampah

Kelompok Tani D'Syafa, Kampung Becek, Kelurahan Malaka, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, menyulap ruang sempit menjadi lahan hijau

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Adi Suhendi
Editor: Sanusi
zoom-in Menilik Srikandi Kampung Becek Bercocok Tanam di Lahan Bekas Puing Sampah
ist
Ketua Relawan Indonesia Bersatu Sandiaga Uno meninjau Kelompok Tani D'Syafa, Kampung Becek, Kelurahan Malaka, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (27/11/2020) 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kelompok Tani D'Syafa, Kampung Becek, Kelurahan Malaka, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, menyulap ruang sempit menjadi lahan hijau.

Menerapkan urban farming, gerakan yang diinisiasi ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 05 ini coba memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri disaat dampak Covid-19 menghantam perekonomian mereka.

Baca juga: Sandiaga Uno dan Fadli Zon Siapa yang Paling Berpeluang Gantikan Edhy Prabowo di Kabinet Jokowi

Melalui inovasi pertanian dengan metode aquaponik budidaya ikan dalam ember, kini lahan bekas pembuangan puing dan sampah dijadikan lahan hijau dengan tanaman teleng, kelor, pokcoy, kangkung, dan bayam.

"Tadinya banyak puing dan sampah, akibatnya banyak orang terkena DBD di situ, akhirnya kami inisiatif ubah," ujar Haryati, anggota kelompok D'Syafa, Jumat (27/11/2020).

Bagi warga, berkebun mendekatkan mereka pada sumber makanan.

Baca juga: Hadir di Wisuda Virtual, Sandiaga Titipkan Pesan Tantangan Globalisasi Sektor Keuangan

Sayur mayur yang ditanam sendiri lebih jelas perawatannya dan harganya pun lebih murah.

Rekomendasi Untuk Anda

Di pasaran, harga sayuran organik dibanderol 2-3 kali lipat dari sayur pada umumnya.

Ditumbuhi lebih dari 10 jenis tanaman, akhirnya seluruh sayuran bisa diperuntukan bagi warga serta dipasarkan ke sejumlah konsumennya.

"Warga mengusulkan agar hasil tanaman tadi dijadikan tambahan lauk. Dari situ, saya berpikir caranya agar hasil tanam ini bisa mendapatkan nilai jual lebih lagi," katanya.

Kegiatan yang dilakukan para srikandi poktan ini rupanya menarik perhatian masyarakat.

Bahkan, beberapa kelompok tani lain berkunjung untuk diskusi mengenai pengolahan hidroponik yang dilakukan kelompok tani yang didirikan sejak tahun 2018 ini.

"Kami punya keunggulan untuk pengolahan bunga teleng dan abon lele," ujar Haryati.

Namun, upaya pelestarian lingkungan tidak melulu berjalan dengan lancar.

keterbatasan modal dan minimnya prasarana yang dimiliki masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan kelompok dan warga.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas