Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Profil Aipda Ambarita, Polisi yang Periksa Paksa HP Warga, Diperiksa Propam, Diduga Langgar SOP

Berikut ini profil Aipda Ambarita yang dimutasi karena memeriksa paksa HP warga. Ambarita diduga melanggar SOP.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Daryono
zoom-in Profil Aipda Ambarita, Polisi yang Periksa Paksa HP Warga, Diperiksa Propam, Diduga Langgar SOP
Instagram @mpambarita
Aipda Ambarita. Berikut ini profil Aipda Ambarita yang memeriksa paksa HP warga. Ambarita diduga melanggar SOP. 

Mengutip Kompas.com, Aipda Ambarita dipercaya menjadi pemimpin tim pengurai massa Polres Jakarta Timur, Raimas Backbone, di tahun 2017.

Tim yang berada di bawah Direktorat Sabhara Polres Jakarta Timur ini bukan sengaja dibentuk seperti Tim Rajawali.

"Kami tidak dibentuk, karena sesuai peraturan dinas," ucap Aipda Ambarita.

Mengenai nama Raimas Backbone, Ambarita menerangkan nama itu terinspirasi dari Sabhara Backbone.

Nama Raimas sendiri merupakan singkatan dari pengurai massa.

Baca juga: Soal Rachel Vennya Kabur dari Karantina, Kepolisian Pastikan Bakal Ada Sanksi Pidana

Baca juga: Propam Koordinasi dengan Itwasum Untuk Periksa Kapolda Banten Terkait Kasus Polisi Banting Mahasiswa

"Dulu ada yang namanya Sabhara Backbone, itu semacam tulang punggung dari Polri, yang bergerak paling depan. Nah, terinspirasinya dari situ," kata Ambarita.

"Jadi namanya tim pengurai massa ditambah kata 'Backbone', Raimas Backbone," lanjutnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Dilansir Kompas.com, tim Raimas Backbone memiliki kanal YouTube yang hingga Selasa (19/10/2021), telah memiliki 1,39 juta subscribers.

Kanal yang dibuat sejak 12 September 2018 ini dipakai sebagai media publikasi aksi Raimas Backbone.

Selain YouTube, Raimas Backbone juga memiliki akun Instagram.

"Semua yang ada di YouTube dan Instagram kami itu apa adanya, artinya tidak dibuat-buat,"ungkap Ambarita.

Lewat kanal YouTube-nya, Raimas Backbone bisa mencukupi biaya operasional mereka sendiri.

Termasuk uang makan dan memperbaiki kendaraan yang digunakan.

"Bikin YouTube, menghasilkan uang. Itu buat kami makan. Dulu enggak ada uang makan dari kantor," ungkapnya.

"Ada motor yang rusak, misalnya ganti tali kopling, itu uang dari YouTube."

"Karena lewat pengajuan dari kantor lama, sementara patroli jalan terus."

"Misal ban pecah, nunggu uang dari kantor lama, masak enggak patroli dulu? Enggak bisa," bebernya.

(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Fandi Permana/Igman Ibrahim, Kompas.com/Nirmala Maulana Achmad)

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas