Konten Berasaskan Pancasila: Cerdas Bermedia Sosial
Kominfo mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan Literasi Digital di Keuskupan Agung yang berlangsung di Ballroom Hotel Ibis Bandung
Editor:
Toni Bramantoro
Menurutnya, jumlah gadget dan penggunaan teknologi maupun internet pada masa pandemi COVID jauh meningkat dibanding sebelum pandemi. Screen time pada saat pandemi pun bisa mencapai 9 jam, namun sekarang sudah menurun menjadi 7 jam.
Devi juga menjelaskan, 4 pilar digital bisa disingkat menjadi CABE, yakni Cakap bermedia digital, Aman di ruang digital, Budaya bermedia digital, dan Etis dalam menggunakan teknologi.
"Pilar digital ini pun harus diterapkan di dunia sehari-hari pada masa kini karena kamera sudah dimana-mana, dengan kata lain perbuatan kita di dunia sehari-hari mudah masuk ke media sosial," ungkap Devi," ungkap Devi.
"Cakap Digital (digital skill) ditunjukkan dengan memeriksa sumber informasi yang kita peroleh, khususnya sekarang hoax sudah marak. Salah satu pemeriksaan berita hoax bisa melalui website cek.lawanhoarx.id atau ke cekhoax.id. Pemeriksaan berita hoax pun sudah bisa melalui WhatsApp," sambungnya.
Ketidakmampuan membedakan hoax dengan fakta tidak hanya terjadi di Indonesia, namun berbagai negara juga terkena masalah yang sama. Bahkan negara Amerika yang notabene lokasi kelahiran media sosial pun tidak bisa membedakan hoax dengan fakta.
"Terdapat banyak dampak negatif dari hoax, diantaranya adalah kematian, kegagalan, kebodohan, dan lainnya. Alasan penyebaran hoax bisa disingkat menjadi 5P, yakni Pahlawan (ingin membantu orang lain tanpa memeriksa ulang), Pengalaman (tidak ada pengalaman serupa dengan informasi yang diterima), Pergaulan terdekat (merasa sudah percaya dengan lingkungan pergaulan), Personalitas, dan Platform," jelasnya.
Sedangkan Richardus Eko Indrajit yang juga menjadi narasumber pada acara ini membahas soal "Cerdas Menggunakan Teknologi dan Media Sosial dalam Mewujudkan Algoritma Kebangsaan".
Richardus mengatakan, permainan Perception is Reality di awal menekankan pentingnya melihat sesuatu secara keseluruhan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan sesuai kenyataan. Selain itu, permainan ini membantu mengingatkan peserta untuk tidak membiarkan persepsi dan asumsi mendahului pengetahuan tentang hal / informasi / masalah tertentu.
"Sejalan dengan event besar negara di tahun 2024 (Pemilu), akan banyak kejadian buruk yang terjadi yang dapat memperkeruh kondisi negara. Situasi tersebut diantaranya adalah kampanye hitam, propaganda dan manipulasi opini, polaritas dan perpecahan, cyber attack, pelanggaran privasi, serta kejadian lainnya," kata Richardus.
"Nilai Algoritma Kebangsaan ini menjadi semakin penting untuk ditingkatkan agar nilainya lebih banyak dari pada algoritma yang merusak," pungkasnya.
Baca tanpa iklan