Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Dugaan Pelecehan di UP, Korban Dapat Intimidasi dari Petinggi Kampus, Minta Laporan Dicabut

RZ yang diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh Rektor Universitas Pancasila nonaktif Edie Toet Hendratno mengaku mendapat intimidasi.

Editor: Abdul Muhaimin
zoom-in Dugaan Pelecehan di UP, Korban Dapat Intimidasi dari Petinggi Kampus, Minta Laporan Dicabut
Kolase Tribunnews
Rektor Univesitas Pancasila Jakarta, Edie Toet Hendratno alias ETH, dilaporkan ke polisi atas kasus dugaan pelecehan seksual dua pegawai wanita. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNNEWS.COM - Dugaan kasus pelecehan dengan terlapor rektor Universitas Pancasila nonaktif, Edie Toet Hendratno masih dalam proses penyelidikan.

Pegawai kampus berinisial RZ yang melaporkan kasus pelecehan mengaku mendapat intimidasi.

RZ bahkan diminta untuk mencabut laporannya agar nama baik kampus terjaga.

Kuasa hukum RZ, Amanda Manthovani, mengatakan kliennya tetap melanjutkan proses hukum dan tak akan mau mencabut laporan.

Kondisi psikologis RZ terguncang setelah mendapat intimidasi.

Amanda Manthovani, mengatakan bahwa korban merasa kesal atas intimidasi yang diterimanya.

Berita Rekomendasi

Hal yang sama dirasakan perempuan berinisial DF yang juga melaporkan Edie ke polisi atas tuduhan serupa.

"Ya sebenarnya justru psikis mereka terguncang, makin merasa luapan hati mereka tambah kesel. Kok udah gue diginiin, gue dirugikan, kok gue disuruh cabut (laporan) juga. Kan keterlaluan," kata Amanda kepada wartawan, Senin (11/3/2024).

Amanda menuturkan, kedua korban yang diduga dilecehkan Edie semakin resah dengan adanya intimidasi tersebut.

"Jadi makanya yang saya bilang kemarin, mereka semakin resah, merasa nggak tenang karena kok sudah jelas-jelas yang salah siapa, kok harus mereka yang harus mengalah dengan dalih nama baik kampus. Sedangkan kampus rusak karena nama baik terlapor, bukan korban," tutur dia.

Amanda mengatakan bahwa korban diminta untuk mencabut laporan polisi (LP).

Baca juga: Korban Pelecehan Rektor Nonaktif UP Diduga Bukan Hanya Dua, Kuasa Hukum: Tapi Dia Nggak Siap Maju

"Artinya diminta, ya sudah istilahnya untuk jaga nama baik kampus, katanya. Dicabut saja, kenapa enggak dicabut saja laporannya, gitu," kata Amanda.

Namun, menurut Amanda, RZ tidak mau mencabut laporannya dan bersikukuh untuk melanjutkan proses hukum.

"Itu menurut saya sudah intimidasi karena dianggap merusak nama baik kampus. Kan gitu," ujar dia.

Ia mengungkapkan, intimidasi itu terjadi pada 12 Februari 2024 ketika RZ dipanggil untuk menghadap salah satu petinggi kampus.

"Itu memang dari salah satu petinggi itu. Itu panggil korban, dan korban info ke saya. 'Mba saya dipanggil sama ini', gitu" ungkap Amanda.

"Terus saya bilang, ya sudah kamu kan masih karyawan. Sebenarnya yang panggil itu kan di (kampus) S1. Sedangkan si korban kan ada di pascasarjana. Tapi kan memang masih ini (karyawan)," tambahnya.

Baca juga: Rektor UP Nonaktif Edie Toet Ambil Langkah Hukum untuk Selesaikan Tuduhan Pelecehan Seksual

Sebelumnya, Edie tidak menyangka dituduh melakukan pelecehan seksual hingga membuatnya dipolisikan dan dinonaktifkan sebagai Rektor Universitas Pancasila.

"Tidak pernah terpikirkan sedikit pun oleh saya bisa berada di titik seperti ini," kata Edie, Kamis (29/2/2024).

Edie merasa kasus ini telah membuatnya berada di titik nadir. Ia menyebut nama baiknya hancur dan prestasinya lenyap seketika.

"Titik nadir paling bawah. nama baik saya dipertaruhkan. Bukan hanya nama baik saya yang hancur, prestasi, loyalitas saya tiba-tiba harus lenyap," ujar dia.

Ia mengaku sedih sekaligus malu lantaran dituding melecehkan dua bawahannya. Ia merasa menjadi korban pembunuhan karakter.

"Mungkin bapak dan ibu nggak bisa menggambarkan kesedihan saya, malu saya, dan sedih saya. Karena apa? Selama saya mengabdi di dunia pendidikan baru sekali ini saya dihina, dijadikan korban character assasination, pembunuhan karakter," ucap Edie.

Baca juga: Polda Libatkan Dinas PPPA dan Tim Dokter Polri Tangani Kasus Pelecehan Seksual Rektor Nonaktif UP

"Padahal, seorang dosen atau guru, saya orang yang betul menjaga etika dan budi. Saya sangat malu di depan semua orang. Makanya saya pakai topi," imbuh dia.

Menurut dia, kasus ini juga turut berdampak terhadap keluarganya yang ikut merasa malu.

"Saya punya keluarga, saya punya istri dan anak-anak yang sudah besar. Bisa dibayangkan gak, betapa mereka sedih dan malu ayahnya diperlakukan seperti ini," tutur Edie.

Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul Diminta Cabut Laporan, Psikologis Terduga Korban Pelecehan Rektor Nonaktif UP Terguncang

Sumber: TribunJakarta
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas