Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Siswi SLB yang Jadi Korban Pelecehan hingga Hamil Alami Trauma, Buang Seragam Pramuka

Dua minggu sejak kasus mencuat, korban berinisial  AS (15), sama sekali tidak mau ditinggal ibunya berinisial R

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Siswi SLB yang Jadi Korban Pelecehan hingga Hamil Alami Trauma, Buang Seragam Pramuka
dok. kompas
Ilustrasi pencabulan anak - Terkuak kondisi terakhir siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) yang diduga jadi korban pencabulan hingga berbadan dua alias hamil. Dua minggu sejak kasus mencuat, korban berinisial  AS (15), sama sekali tidak mau ditinggal ibunya berinisial R 

Laporan Wartawan Wartakotalive Nuri Yatul Hikmah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Terkuak kondisi terakhir siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) yang diduga jadi korban pencabulan hingga berbadan dua alias hamil.

Dua minggu sejak kasus mencuat, korban berinisial  AS (15), sama sekali tidak mau ditinggal ibunya berinisial R.

Bahkan saat ibunya hanya pergi dalam jarak beberapa meter saja. 

Kondisi membuat R tidak lagi bekerja lantaran korban selalu merengek apabila ditinggalkan.

"Jadi ada rasa takut, ke mana nyariin, asal bangun melihat saya ke dapur, kalau udah lihat nanti tidur lagi, enggak pernah ke mana-mana," kata R saat ditemui di Mapolres Jakarta Barat, Rabu (29/5/2024).

R menyebut putrinya  selalu bereaksi tidak nyaman ketika melihat seragam sekolahnya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Cuma kalau liat baju sekolah, 'Mama enggak mau olah (sekolah)', 'Mama enggak mau sekolah libur', setiap lihat baju sekolah, kayak orang trauma," ungkap R lirih.

Baca juga: Keluarga Siswi SLB Korban Pelecehan hingga Hamil 5 Bulan akan Melapor ke Polres Metro Jakarta Barat

"Makanya saya bilang sampai sekarang saya enggak pernah kerja, ya karena mikir dia gimana nantinya," imbuh dia.

Korban juga pernah membuang baju seragam pramuka sesaat setelah R melipat seragamnya usai selesai dijemur.

Dijelaskan R, seragam pramuka adalah baju yang dipakainya saat dia dan putrinya pertama kali datang ke sekolah untuk melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada wali kelas dan kepala sekolahnya.

"Apa lagi waktu lihat baju pramuka, pertama saya laporin ke sekolah ini anak habis (ditanya) sama wali kelas, dia diajak sama kepala sekolah ke ruang berbeda, itu pakai baju pramuka," kata R.

"Dengan dia keluar nangis. Saya tanya kepala sekolah, 'Kenapa anak saya nangis?', (kepala sekolah menjawab) 'Bapak, ibu kalau anak ibu nangis berarti apa yang saya tanya nyambung', sementara kami enggak tahu apa yang ditanya karena enggak boleh didampingi," tutur R.

"Di situ anak setelah saya nyuci baju pramuka, saya lipatin, 'Mama ashh... (mengerang)', bajunya dibuang,

'Mama enggak mau sekolah', jadi trauma sampai sekarang," imbuhnya.

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas