Stunting Masih Ditemukan di Jakarta, Wakil DPRD DKI: Sangat Memprihatinkan
Jakarta kota global, tapi anak-anak masih stunting. Kenapa bisa? Siapa yang bertanggung jawab? Ini bukan sekadar angka—ini soal masa depan.
Penulis:
Alfarizy Ajie Fadhillah
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Komite Nasional Pencegahan Stunting (KNPS) menggelar kegiatan edukasi gizi dan sosialisasi program pencegahan stunting di Rumah Susun Jatinegara Barat, Jakarta Timur, Jumat kemarin. Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga siang hari, melibatkan puluhan ibu dan anak dari lingkungan rusun.
Acara bertajuk “Edukasi Gizi untuk Ibu dan Anak Indonesia Raya” ini bertujuan memperkuat peran ibu dalam memastikan pemenuhan gizi anak di lingkungan rumah tangga.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Rany Mauliani, menyoroti masih ditemukannya kasus stunting di Jakarta, meskipun ibu kota kini tengah bertransformasi menuju kota global.
“Jakarta sudah lebih dari 200 tahun menjadi ibu kota negara. Tapi ternyata masih ada anak-anak yang mengalami stunting. Ini sangat memprihatinkan,” ujar Rany dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (18/10/2025).
Pernyataan tersebut merujuk pada sejarah panjang Jakarta sebagai pusat pemerintahan sejak era kolonial. Secara konstitusional, Jakarta ditetapkan sebagai ibu kota negara melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1964 dan telah berstatus resmi selama 61 tahun.
Rany menilai persoalan stunting banyak dipicu oleh kurangnya pemahaman orangtua terhadap gizi, terutama pada masa kehamilan. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada para orangtua.
“Pemahaman tentang gizi tidak selalu sama pada setiap keluarga. Karena itu, peran orangtua, khususnya para ibu, sangat penting untuk memperbaiki gizi anak-anaknya,” lanjut politisi Partai Gerindra itu.
Ia mendorong agar kegiatan edukasi seperti yang dilakukan KNPS diperluas ke lebih banyak wilayah.
“Dengan adanya sharing dari Badan Gizi Nasional dan Dinas Kesehatan, mudah-mudahan para ibu semakin paham cara memenuhi kebutuhan gizi anak. Ini juga menjadi perhatian Pemprov DKI untuk terus menekan angka stunting,” jelasnya.
Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Jakarta tercatat sebesar 17,2 persen, turun 0,4 persen dari tahun sebelumnya. Prevalensi stunting adalah persentase anak balita yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dalam periode panjang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Baca juga: Menpan RB Ungkap Banyak ASN Jadi Penerima Bantuan Orang Miskin
Ketua Umum KNPS, David Hamka, menyatakan bahwa kegiatan edukasi gizi di Rusun Jatinegara Barat merupakan bagian dari dukungan terhadap upaya nasional penurunan angka stunting. Ia berharap edukasi langsung dari tenaga gizi dapat membantu para ibu memahami kebutuhan nutrisi anak secara praktis.
“Stunting adalah masalah serius yang harus kita tangani bersama. Dengan edukasi yang tepat, para ibu di rusun dapat berperan aktif dalam memastikan anak-anak tumbuh sehat,” ujar David di lokasi kegiatan, Jumat (17/10/2025).
Kegiatan ini mencakup sesi edukasi gizi, lomba mewarnai bertema makanan sehat, dongeng interaktif, dan pembagian bingkisan berisi bahan pangan bernutrisi seperti beras, sarden, susu, telur, dan minyak.
David menambahkan, program ini sejalan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah. Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, MBG telah menjangkau lebih dari 6,2 juta penerima manfaat hingga pertengahan Juli 2025, dengan target 20 juta jiwa pada akhir tahun.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia, sebagai bagian dari upaya kolaboratif lintas sektor untuk menekan angka stunting secara nasional.
Baca tanpa iklan