Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Keheningan yang Berbicara: Refleksi Humanis dalam Patung Logam Redy Rahadian

Melalui Terbang Tinggi, Redy Rahadian tak hanya memandang patung bukan semata persoalan bentuk dan material, melainkan pengalaman dan makna.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Keheningan yang Berbicara: Refleksi Humanis dalam Patung Logam Redy Rahadian
HO/IST
REFLEKSI SUNYI - Patung Terbang Tinggi karya Redy Rahadian menghadirkan refleksi sunyi tentang keberanian, keseimbangan, dan kesadaran dalam perjalanan manusia menghadapi realitas. Melalui logam yang diolah dengan presisi tinggi, Redy Rahadian menegaskan patung sebagai medium perenungan, bukan sekadar pernyataan visual. 

Bentuknya merekam ketegangan yang seimbang: ada beban, ada dorongan, dan ada arah. Alih-alih menampilkan gerak yang eksplosif, Redy justru menghadirkan ketenangan visual sebagai kekuatan utama karya ini.

“Terbang bukan tentang meninggalkan tanah sepenuhnya, tetapi tentang memahami pijakan sebelum melangkah lebih jauh,” demikian makna yang tercermin dari pendekatan Redy terhadap karya tersebut.

Logam yang berat dan padat diolah menjadi metafora perjalanan batin manusia. Dalam Terbang Tinggi, kekuatan tidak dimaknai sebagai dominasi, melainkan sebagai keteguhan arah dan tujuan.

Karya ini berbicara tentang aspirasi yang tumbuh dari kesadaran, bukan dari ambisi kosong—sebuah refleksi yang terasa dekat dengan realitas kehidupan kontemporer.

Penempatan Terbang Tinggi di ruang publik semakin memperkuat dialog antara karya, ruang, dan penikmatnya. Patung ini tidak hadir sebagai objek yang terpisah, melainkan menyatu dengan lanskap dan atmosfer sekitarnya.

Dalam konteks tersebut, ia berfungsi sebagai penanda visual sekaligus pengingat: bahwa di tengah kemewahan, kesibukan, dan pencapaian, manusia tetap membutuhkan ruang untuk merefleksikan arah hidupnya.

Melalui Terbang Tinggi, Redy Rahadian kembali menegaskan posisinya sebagai seniman yang memandang patung bukan semata persoalan bentuk dan material, melainkan pengalaman dan makna.

Rekomendasi Untuk Anda

Di antara logam, ruang, dan waktu, karyanya mengajak kita memahami bahwa keberanian terbesar kerap lahir dari ketenangan, dan bahwa untuk benar-benar terbang, seseorang perlu terlebih dahulu berdamai dengan pijakannya.

(Tribunnews.com/ Hasiolan EP)

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas