Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Tak Pusing Harga Bahan Baku Naik, Pemilik Dapur MBG Ini Ungkap Cara Mengatasinya

Sejak awal SPPG beroperasi , Jimmy Hantu ini berupaya menggunakan bahan lokal dalam mengolah MBG

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Erik S
zoom-in Tak Pusing Harga Bahan Baku Naik, Pemilik Dapur MBG Ini Ungkap Cara Mengatasinya
Tribunnews/Rina Ayu Panca Rini
BAHAN BAKU - Pemilik dua dapur MBG di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sujimin saat ditemui di SPPG miliknya pada Selasa (16/12/2025). Sejak awal SPPG beroperasi , pria yang sering disapa Jimmy Hantu ini berupaya menggunakan bahan lokal. Sekitar 90 persen bahan baku berasal dari lingkungan sekitar. 

Ringkasan Berita:
  • Jimmy Hantu pengelola dapur MBG di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor menggunakan 90 persen bahan baku dari lingkungan.
  • Di SPPG Mutiara Keraton Solo Bogor 1 dan 2 miliknya, didukung juga oleh lahan pertanian sendiri serta peternakan unggas, budidaya ikan air tawar hingga sapi.
  • Dua SPPG ini menyiapkan sekitar 8.000 porsi MBG yang didistribusikan untuk 25 sekolah di kecamatan sekitar.

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR – Kenaikan harga bahan baku biasanya membuat pelaku usaha pusing.

Namun, kondisi itu tak berlaku bagi pemilik dua dapur MBG (makan bergizi gratis) di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sujimin.

Alih-alih kelimpungan, ia justru memiliki cara agar operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap berjalan lancar.

Baca juga: Kepala BGN Tanggapi Isu Kepemilikan 41 Dapur MBG yang Dikelola Anak DPRD Sulsel

Sejak awal SPPG beroperasi , pria yang sering disapa Jimmy Hantu ini berupaya menggunakan bahan lokal.

Sekitar 90 persen bahan baku berasal dari lingkungan sekitar.

“Kami sengaja tidak mengambil bahan dari luar. Karena ini program Indonesia jadi yang mendapatkan dampaknya juga harus warga Indonesia,” katanya saat ditemui di SPPG miliknya pada Selasa (16/12/2025).

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut dia, dalam program ini pihak yang paling diuntungkan adalah petani bukan pemilik dapur.

Dalam satu sajian ompreng MBG yang utamanya adalah makanan maka keuntungan justru dirasakan para petani.

“Dapur ini tidak ada uangnya, petani justru untung, karena total isi ompreng itu makanan yang asalnya dari apa yang ditanam dan diternak petani,” ungkap lulusan S2 IPB ini.

Di SPPG Mutiara Keraton Solo Bogor 1 dan 2 miliknya, didukung juga oleh lahan pertanian sendiri serta peternakan unggas, budidaya ikan air tawar hingga sapi.

Dengan sistem ini maka rantai pasok bisa berjalan dengan baik dan berkelanjutan.

Kehadiran dapur MBG di wilayahnya juga langsung dirasakan warga sekitar.

Baca juga: Tak Hanya Berakhir di Tempat Sampah, Limbah MBG Disulap Jadi Pakan Ternak dan Pupuk

“Yang sebelumnya orang sekitar tidak familiar dengan menanam daun kelor, sayuran pakcoy sekarang ramai-ramai menanam sayuran itu dan laku dijual,” jelas dia.

Tak hanya sektor pertanian, geliat ekonomi juga terlihat pada peternakan.

Peternakan atau budidaya dalam skala kecil mulai bermunculan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas