Program MBG Diharapkan Kurangi Ketimpangan Akses Nutrisi di Desa
Program MBG diharapkan mampu membantu mengurangi ketimpangan, terutama dalam akses nutrisi yang seimbang bagi anak-anak
Penulis:
Erik S
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menilai Program MBG mengurangi ketimpangan nutrisi masyarakat pedesaan Indonesia signifikan.
- Menurutnya, peningkatan kualitas generasi bangsa harus dimulai melalui pemerataan pemenuhan gizi anak-anak sejak dini nasional.
- Program MBG turut mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui keterlibatan koperasi, UMKM, serta kelompok tani lokal.
TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketimpangan sosial, terutama dalam akses nutrisi bagi masyarakat di pedesaan.
Menurut dia, peningkatan kualitas generasi bangsa harus dimulai dari pemenuhan gizi anak-anak secara merata.
“Program MBG diharapkan mampu membantu mengurangi ketimpangan, terutama dalam akses nutrisi yang seimbang bagi anak-anak,” kata Rahmat saat menghadiri pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia Lampung di Hotel Radisson Lampung Kedaton, Selasa (19/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Dr. H. M. Muslih, S.H., M.H. resmi dikukuhkan sebagai Ketua DPW Gapembi Lampung. Acara dihadiri Direktur Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Gizi Nasional Tengku Syahdana, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, Kajati Lampung Dr. Andy Sasongko, Ketua KADIN Lampung Dr. H. M. Kadafi, serta para bupati dan wali kota se-Lampung.
Rahmat mengatakan sekitar 70 persen populasi Indonesia berada di desa, namun sekitar 70 persen kekayaan justru terkonsentrasi di kota-kota besar.
Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan masih tingginya ketimpangan ekonomi dan akses kesejahteraan di masyarakat.
Baca juga: Polda Lampung Gerak Cepat Selamatkan Dua Siswi Korban TPPO
Ia menilai Program MBG menjadi salah satu langkah penting dalam mencerdaskan generasi muda sebelum Indonesia menuju peradaban yang lebih maju.
“Peningkatan kualitas generasi dimulai dari pemenuhan gizi anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat BGN RI Tengku Syahdana mengatakan Indonesia kini menjadi negara dengan program makan bergizi berskala terbesar kedua di dunia setelah India.
Program MBG yang dijalankan pemerintah saat ini disebut telah menjangkau sekitar 62 juta penerima manfaat di berbagai daerah.
Menurut Tengku, program tersebut bukan hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan.
“Program ini bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong sinergi ekonomi kerakyatan untuk semua pihak,” ujar Tengku.
Ia menjelaskan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan melibatkan minimal lima supplier berbeda dalam rantai pasoknya.