Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Bamsoet Dukung Karya Sineas Muda Indonesia Tentang Antariksa V

Ketua MPR RI dukung penuh usaha kreatif dari anak-anak muda di Indonesia, salah satunya film Antariksa V garapan Sineas Gusti Handoko

Bamsoet Dukung Karya Sineas Muda Indonesia Tentang Antariksa V
MPR RI
Ketua MPR RI, Bambang Sosatyo dukung film karya anak bangsa 

TRIBUNNEWS.COM,BALI - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendukung setiap usaha kreatif anak bangsa. Seperti ditunjukan cineas muda Gusti Handoko melalui Vektor Pictures, yang sedang menggarap film Antariksa V. Berkisah tentang usaha Indonesia pada dekade 2030an dalam membuktikan dirinya sebagai negara maju dengan proyek teknologi yang paling ambisius dan berisiko, yakni program eksplorasi ruang angkasa Antariksa. 

"Film mengisahkan usaha pengiriman astronot Indonesia pertama, Alice, ke luar angkasa dan mendaratkannya ke Bulan. Namun semuanya tidak berjalan lancar. Alice hilang saat melakukan pendaratan di bulan bersama misi Antariksa IV, yang membuat program Antariksa dipertanyakan kelayakan dan tujuannya," ujar Bamsoet saat mendatangi studio pembuatan film Antariksa V, di Bali, Senin (10/5/21). 

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, Alice dikisahkan sebagai single mother yang meninggalkan anak tunggalnya di Bumi. Oleh sebagian kalangan, ia dianggap sebagai pahlawan. Namun bagi sebagian kalangan lainnya, proyek Antariksa dianggap pemborosan. Rekan-rekan astronot Alice, seperti Rendra, Gita, dan Surya pun berusaha memperjuangkan agar misi Antariksa V dapat dilanjutkan, tidak hanya untuk menyelesaikan misi Antariksa IV tapi juga untuk mencari tahu alasan pasti hilangnya Alice. 

"Film ini menekankan, bahwa setiap program eksplorasi pasti memiliki risiko, dan tidak setiap pencapaian dapat dinilai dengan uang," jelas Bamsoet. 

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menerangkan, pemilihan astronot sebagai personifikasi superhero merupakan simbol yang paling tepat. Di dunia nyata, Indonesia pernah memiliki dua orang astronot, Pratiwi Sudarmono dan Taufik Akbar. Keduanya gagal berangkat karena insiden pesawat ulang alik Challenger di tahun 1986 dan krisis moneter yang melanda sehingga mereka harus kembali lagi ke Indonesia karena keterbatasan dana. 

"Hingga hari ini, Indonesia masih belum kembali menyentuh mimpi yang sama untuk melahirkan astronot. Melalui film Antariksa V, kita harap bisa menggugah kesadaran semua pihak, khususnya untuk memotivasi generasi muda, sehingga mimpi besar Indonesia memiliki astronot bisa segera terwujud," pungkas Bamsoet. (*)

Ikuti kami di
Editor: Content Writer
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas