Politisi Golkar: Sakralkan Pemilu Ciptakan Penyimpangan Sosial
Menjadikan pemilihan umum sebagai sesuatu yang sakral dan harus diperjuangkan mati-matian adalah pandangan keliru
Penulis: Y Gustaman
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjadikan pemilihan umum sebagai sesuatu yang sakral dan harus diperjuangkan mati-matian adalah pandangan keliru. Bukan tak mungkin jika itu dilakukan, akan membuka pintu penyelewengan.
Demikian disampaikan Politisi Golkar, Mahadi Sinambela dalam diskusi, 'Mewujudkan Pemilu 2014 yang Aman dan Demokratis,' di Galeri Cafe Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (23/6/2013).
"Jangan jadikan pemilu sesuatu yang sakral, jangan pula jadi tujuan yang mati-matian. Kalau begitu, maka akan ada social unrest, ada kerusuhan sosial. Pasti ada penyelewengan pemilu," ujar Mahadi.
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini memberi contoh bagaimana penyelewengan akan terjadi jika pemilu disakralkan. Salah satunya, partai atau calon legislatif akan mati-matian mengumpulkan dana di luar pemilu.
Bukan larangan partai atau caleg mencari uang. Persoalannya, jika orientasi pencarian dana selama ini hanya untuk dihabiskan demi kampanye, maka segala cara akan ditempuh. Dan niat mengabdi untuk bangsa dilewati dengan proses salah.
"Niatnya baik untuk memimpin bangsa ini. Tapi kalau melakukan kegiatan yang salah pada hari ini atau masa lalu seperti Bank Century jangan sampai. Ini yang harus kita tanamkan untuk merubah kultur partai," terangnya.
Mahadi mengaku, belum bisa mengubah kultur di Golkar. Padahal salah satu yang merusak partai politik adalah kultur money politic. Ia memprediksi, kultur ini akan terus bertahan sampai Pemilu 2014 nanti.
"Saya mengkhawatirkan, justru nanti yang terjadi akan semakin sedikit orang datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara). Pertanyaannya, apakah partai masih bisa menggiring pendukung barunya untuk memilih," ucapnya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.