Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dulu Dukun Dikunjungi Jelang Pemilu, Sekarang Jajak Pendapat

Sejumlah hasil jajak pendapat dan survei bermunculan mendekati Pemilu 2014.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Abdul Qodir
Editor: Johnson Simanjuntak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah hasil jajak pendapat dan survei bermunculan mendekati Pemilu 2014. Penggunaan metode ilmiah dalam berpolitik itu berbanding terbalik dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya.

Demikian disampaikan Soegeng Sarjadi dalam sambutan Public Lecture Kandidat Presiden 2014 yang digelar Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) di Hotel Four Seasons, Jakarta, Kamis (9/1/2014).

Soegeng menyatakan, budaya politik yang dibangun saat ini terbilang lebih sehat dan dewasa, di antaranya dengan menggunakan jajak pendapat sebagai cara untuk mengetahui kekuatan sekaligus menjaga eksistensi calon dalam Pileg dan Pilpres.

Menurut Soegeng yang juga pendiri lembaga riset SSS itu, jajak pendapat adalah salah satu cara yang menggantikan kampanye secara terbuka, seperti kampanye dengan mengerahkan massa ke jalan dan menghabiskan uang banyak.

"Aplikasi statistik sudah bisa mewakili, mau maju atau tidaknya seorang calon. Kadang bisa menyesatkan dan tidak. Mau tidak mau itu ilmu yang harus diambil calon," kata Soegeng.

"Dengan ilmu jajak pendapat, matilah dukun-dukun politik, gua-gua semedi, dan kemenyan. Dulu di Pelabuhan Ratu banyak menyan. Sekarang mbah-mbah di sana enggak dikunjungi lagi. Sekarang yang dikunjungi itu survei Soegeng Sarjadi Syndicate," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas