Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Perempuan Alumni KAMMI Dukung Jokowi-JK

Hal senada disampaikan oleh alumni KAMMI Jakarta, Arum yang menilai Jokowi-JK merupakan pasangan capres paling pro perempuan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Perempuan Alumni KAMMI Dukung Jokowi-JK
TRIBUNNEWS.COM/ DANY PERMANA
Jokowi dan Jusuf Kalla 

"Kami menilai Jokowi-JK memiliki kesamaan visi-misi, terutama dengan optimalisasi peran perempuan."

Jakarta - Perempuan Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mendeklarasikan dukungan terhadap pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Endang Sahlan, salah satu penggagas kelompok ini, mengatakan pihaknya menggerakkan jaringan perempuan KAMMI untuk ikut berkampanye memenangkan pasangan capres-cawapres nomor urut dua. "Kami baru melakukan konsolidasi awal," kata mantan Ketua Perempuan KAMMI Jawa Timur ini, dikutip tempo.co, Jumat 27 Juni 2014.

Alumni KAMMI menilai bahwa sifat Jokowi yang sederhana dan merakyat serta pengalaman JK dalam memimpin pemerintahan merupakan figur yang tepat mengisi kepemimpinan nasional mendatang. Visi-misi Jokowi-JK dalam bidang perempuan menjadi pertimbangan kuat Perempuan Alumni KAMMI mendukung pasangan ini. "Kami menilai Jokowi-JK memiliki kesamaan visi-misi, terutama dengan optimalisasi peran perempuan," tambah Endang.

Hal senada disampaikan oleh alumni KAMMI Jakarta, Arum yang menilai Jokowi-JK merupakan pasangan capres paling pro perempuan. Untuk itu, mereka akan memastikan perempuan alumni KAMMI seluruh Indonesia bergerak memenangkan pasangan Jokowi-JK. "Ada tiga ribu pos pemberdayaan perempuan di seluruh Indonesia yang selama ini kita bina secara intensif. Dan, semuanya siap kita gerakkan," papar Arum

KAMMI merupakan cikal-bakal Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Menurut buku "Dilema PKS: Suara dan Syariah," Burhanuddin Muhtadi menulis, para aktivis KAMMI 1998 percaya bahwa partisipasi dan kontribusi dalam sistem demokrasi akan mendatangkan banyak keuntungan untuk gerakan dakwah Islam.

"Tapi beberapa aktivis lain menolak ide itu. Menurut mereka, gerakan dakwah kampus cukup menjadi organisasi non-politik," tulis Burhanuddin dalam buku yang kata pengantarnya ditulis oleh Presiden PKS Anis Matta itu.

Rekomendasi Untuk Anda

Berdasarkan survei internal antarkader KAMMI, Burhanuddin menambahkan, mayoritas aktivis setuju mendirikan partai. Akhirnya, pada 20 Juli 1998, berdirilah Partai Keadilan (sekarang Partai Keadilan Sejahtera).

Kini, PKS berkoalisi dengan Partai Gerindra, Partai Golkar, PPP, Partai Demokrat, dan lainnya mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa. (skj) (Advertorial)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas