Pancasila dan Masyarakat Ekonomi ASEAN
Negara ASEAN lainnya secara umum mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dibanding saat bergabung dengan ASEAN.
Editor:
Hasanudin Aco
Sedangkan share ekspor Indonesia ke Singapura mengalami penurunan signifikan dari 53,54% (sebelum AFTA) menjadi 45,12% (setelah AFTA). Impor Indonesia dari negara-negara ASEAN sebelum AFTA diterapkan dominan berasal dari Singapura sebesar 57,32%.
Selanjutnya impor Indonesia dari Thailand (19,22%), Malaysia (16,15%), Vietnam (4,11%), philipines (1,92%), Brunei (0,90%), Myanmar (0,35%), laos (0,02%), dan Cambodia (0,01%). Setelah AFTA diterapkan pada tahun 2003, share impor Indonesia masih dominan berasal dari Singapura.
Namun share impor Indonesia dari Singapura mengalami penurunan dari 57,32% sebelum AFTA menjadi 51,50% setelah AFTA. Share impor Indonesia dari Thailand, Vietnam, Philipines, dan Myanmar juga mengalami penurunan setelah AFTA diterapkan.
Sedangkan di sisi lain, share impor Indonesia dari Malaysia mengalami peningkatan setelah AFTA menjadi 19,86%. Begitu juga share impor Indonesia dari Brunei setelah AFTA mengalami peningkatan signifikan me jadi 4,29%.
Tantangan dan permasalahan Indonesia, Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di ASEAN (43% dari total penduduk ASEAN) memiliki berbagai keunggulan komparatif di aspek sumber daya alam, populasi diatas 230 juta jiwa dengan usia produktif mencapai hampir 50%, PDB yang mencapai US $846 milyar atau sekitar 40,3% dari total PDB ASEAN, serta pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan relatif stabil rata-rata dengan tingkat 6,5%.
Namun konsekuensinya adalah Indonesia menjadi tujuan ekspor dari produk negara-negara ASEAN lainnya. Oleh karenanya yang menjadi tantangan terbesar Indonesia adalah bagaimana menguasai pasar domestik kita, artinya menguasai kebutuhan pasar didalam negeri dengan kekuatan kapasitas produk Indonesia yang berdaya saing (kalau tidak pasti akan diisi oleh produk negara anggota ASEAN lainnya yang lebih berdaya saing.
Untuk mendorong daya saing perlu pencermatan atas kendala : 1].Masyarakat belum mampu berpartisipasi dalam peluang usaha yang ada 2].Perkembangan usaha swasta diwarnai berbagai kebijakan pemerintah yang belum selaras dengan tantangan yang ada 3]. Minimnya pelaku usaha baru yang berperan dalam perekonomian nasional 4]. Minimnya peraturan tentang persaingan usaha yang sehat 5].Kurang Inovasi dan Kreasi Produk sebagai penyebab rendahnya daya saing.
Hakikatnya hukum persaingan dapat memberi banyak manfaat yakni: 1]. Menumbuhkan inovasi 2].Memicu dan memacu keragaman produk 3].Harga yang identik dengan kualitas 4]. Menempatkan konsumen sebagai price taker 5].Jaminan kebutuhan konsumen terpenuhi 6].Mendorong naiknya indeks FIKIR PEDAS atau Fokus Inovasi Kreasi Integrasi Rasional Produktivitas Efisiensi Dayasaing.
Sehingga diharapkan Strategi Implementasi Aksi Program atau SIAP menghadapi MEA harus dimulai dengan 1].PenumbuhkembanganPancasila preunership di dada semua komponen bangsa 2].Pembangunan masyarakat wirausaha melalui perubahan mindset dari pasar produk menjadi pengekspor produk 3].Pendirian AKADEMI Asean atau Aliansi Kebudayaan Asean Dialog Esensial Mutual Interes, sehingga pemahaman budaya Asean akan menjadi pemandu kerjasama yang sehat bukan persaingan bebas.
4].Adanya Gerakan AKRAB atau Akur Kompak Rukun Ayo Bersatu dengan MEA.
Semoga dengan lahirnya Gerakan BANGGA Pancasila atau Bersama Anak Negeri Gegap Gempita Amal Pancasila kita sambut Masyarakat Ekonomi ASEAN dengan Pancasila Indonesia , Indonesia Pancasila , Ayo Maju, Maju, Maju. Amin.
* Dody Susanto
Direktur Klinik Pancasila