Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mushadeq, Nabi Palsu Pembina Gafatar Terancam Hukuman Berat

Dia dijuluki 'nabi palsu' dan juga telah mendekam di penjara selama empat tahun sejak 2007.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Valdy Arief
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Mushadeq, Nabi Palsu Pembina Gafatar Terancam Hukuman Berat
Bangka Pos/TRIBUNNEWS.COM Network
Dokumentasi/Foto Ahmad Moshaddeq 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Mantan Pimpinan Al Qiyadah Al Islamiyah, Ahmad Mushadeq yang disebut pembina organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dapat kembali mendekam di penjara dalam waktu lebih lama.

Hal tersebut dinyatakan Direktur Sosial Budaya Badan Intelejen dan Keamanan Polri Brigjen (Pol) Bambang Sucahyo.

Menurutnya, Mushadeq yang pernah mengaku nabi terakhir (dijuluki nabi palsu) ini telah terbukti di pengadilan melakukan penistaan agama, secara langsung akan mendapat hukuman lebih berat jika terlibat Gafatar.

"Data tidak pernah bohong. Soal pidana yang dia (Mushadeq) lakukan itu otomatis bisa memperberat hukuman," kata Bambang Sucahyo di Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (21/1/2016).

Mushadeq yang diduga melakukan pidana penistaan agama, dijelaskan Bambang, penindakannya tidak memerlukan laporan masyarakat terlebih dahulu.

"Cukup berdasarkan kejadian di masyarakat bahwa ada yang hilang dan sebagainya," katanya.

Namun, Kepolisian masih perlu menunggu fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan Gafatar sebagai bentuk pencemaran agama.

Rekomendasi Untuk Anda

Ahmad Mushadeq merupakan Pimpinan Al Qiyadah Al Islamiyah, organisasi terlarang karena melakukan penistaan agama. Melalui organisasi itu Mushadeq mengaku dirinya nabi terakhir setelah Nabi Muhammad.

Dia dijuluki 'nabi palsu' dan juga telah mendekam di penjara selama empat tahun sejak 2007.

Gafatar mulai mendapat sorotan publik setelah dikaitkan sebagai penyebab hilangnya sejumlah orang. Termasuk dokter Rica Tri Handayani dan anak balitanya, Zafran Alif Wicaksono yang hilang dari keluarganya di Yogyakarta, kemudian ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas