Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Hukuman Mati

Presiden Filipina Duterte Persilakan Indonesia Mengeksekusi Mary Jane

Presiden Joko Widodo menuturkan, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mempersilakan pemerintah Indonesia untuk mengeksekusi Mary Jane Veloso

Presiden Filipina Duterte Persilakan Indonesia Mengeksekusi Mary Jane
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kiri) melihat salah satu toko saat mengunjungi Pasar Tanah Abang, Jakarta, Kamis (9/9/2016). Mengunjungi Pasar Tanah Abang merupakan rangkaian kunjungan pertama kali Presiden Filipina Rodrigo Duerte ke Indonesia setelah menjabat sebagai Presiden Filipina. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Joko Widodo menuturkan, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mempersilakan pemerintah Indonesia untuk mengeksekusi Mary Jane Veloso, salah satu terpidana mati yang eksekusinya ditunda karena diindikasikan merupakan korban perdagangan manusia.

Berbicara kepada wartawan usai melaksanakan salat Idul Adha di Serang, Provinsi Banten, Senin (12/9), Presiden Jokowi menceritakan pertemuannya dengan Duterte saat presiden Filipina itu berkunjung ke Jakarta, 9 September lalu.

“Saya sampaikan tentang Mary Jane dan saya bercerita bahwa Mary Jane itu membawa 2,6 kilogram heroin,” kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi kemudian mengisahkan penundaan eksekusi terhadap Mary Jane, Mei 2015 lalu.

Akan tetapi, Presiden Duterte justru mempersilakan pemerintah Indonesia untuk mengeksekusi perempuan tersebut.

“Presiden Duterte saat itu menyampaikan, ‘silakan kalau mau dieksekusi’,” kata Presiden Jokowi.

Mary Jane urung dieksekusi karena permintaan presiden Filipina saat itu, Benigno Aquino, menyusul perkembangan bahwa seseorang menyerahkan diri di negara tersebut dan mengklaim Mary Jane hanya sebagai kurir narkoba.

Mary Jane Veloso dijadwalkan dieksekusi bersama delapan terpidana kasus narkoba di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, 29 April 2015 lalu.

Namun, pada menit-menit akhir sebelum pelaksanaan, Mary Jane urung dieksekusi karena permintaan presiden Filipina saat itu, Benigno Aquino, menyusul perkembangan bahwa seseorang menyerahkan diri di negara tersebut dan mengklaim Mary Jane hanya sebagai kurir narkoba.

Menurut Jaksa Agung HM Prasetyo, pada April 2015, memang benar "ternyata ada fakta-fakta dan indikasi bahwa Mary Jane Veloso adalah korban dari perdagangan manusia".

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Jateng
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas