Mendikbud Soal Sensor Film: Masyarakat Sudah Dewasa Tak Perlu Aturan Sensor
Masyarakat sudah bisa menentukan sendiri mana yang benar mana yang salah
![Mendikbud Soal Sensor Film: Masyarakat Sudah Dewasa Tak Perlu Aturan Sensor](https://asset-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/menteri-pendidikan_20161116_165351.jpg)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mendukung adanya sensor mandiri oleh masyarakat.
Masyarakat yang baik, kata Mendikbud, adalah masyarakat yang tidak memerlukan banyak aturan karena sudah teratur.
Mereka bisa menentukan sendiri mana yang baik dan mana yang buruk.
"Termasuk dalam menilai karya film, jika masyarakat sudah cukup dewasa dan kritis maka tidak perlu lagi banyak aturan tentang sensor, cukup dengan sensor mandiri," kata Mendikbud usai menghadiri peringatan 100 tahun sensor film di Gedung Film, Jakarta, Sabtu(19/11/2016).
Jika kondisi ideal itu terwujud, lanjutnya, LSF tidak perlu terlalu susah kerjanya, hanya perlu sebagai regulatory body saja.
"Cukup memberi rambu-rambu," kata Muhadjir.
Namun demikian, tetap saja sensor oleh negara melalui LSF diperlukan.
"Sebab ada yang menganggap bahwa karya film walau tidak boleh membatasi kreativitas, tetap saja film itu tidak bebas nilai," tuturnya.
Oleh karenanya perlu nilai bersama untuk menentukan kelayakan tontonan, setidaknya untuk membatasi usia penonton.
Di sisi lain, Mendikbud mengimbau LSF dan segenap pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyelenggaran sensor film di Indonesia dapat mewujudkan film tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai sarana menyampaikan pesan pendidikan.
“Atas nama pemerintah saya sampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada para pemangku kepentingan penyelenggara sensor film Indonesia yang telah memberikan andil dalam perkembangan film Indonesia. Mari kita wujudkan film sebagai sarana menyampaikan pesan pendidikan,” ujar Mendikbud.
Puncak peringatan tahun ini mengangkat tema “Sensor Mandiri Wujud Kepribadian Bangsa”.
Dengan tema tersebut, kata Mendikbud, sangat relevan dengan nuansa pemberdayaan semua pemangku kepentingan perfilman.
Dalam perfilman, Mendikbud mengatakan bahwa film berkaitan erat dengan imajinasi, dan ini harus dapat di ekspresikan dalam media yang dapat ditampilkan secara apik.