Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Adnan Anwar: Semua Bisa Hidup Berdampingan di Indonesia

Islam moderat yang berkembang di Indonesia terbukti mampu membangun konstruksi antar agama dalam perspektif Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Adnan Anwar: Semua Bisa Hidup Berdampingan di Indonesia
netralnews.com
Adnan Anwar (kiri) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Islam moderat yang berkembang di Indonesia terbukti mampu membangun konstruksi antar agama dalam perspektif Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bukan negara islam.

Fakta itulah yang membuat banyak negara-negara internasional yang belajar dan terinspirasi islam moderat dari Indonesia untuk membangun perdamaian di negaranya masing-masing.

Itulah yang menjadi misi Raja Saudi, Salman Bin Abdul Aziz Al Saud yang selama beberapa hari terakhir berkunjung dan berlibur di Indonesia.

"Saya kira itu patut dicontoh oleh Arab Saudi. Malah sekarang banyaknya negara-negara lain itu berbondong-bondong mencontoh ke Indonesia mengenai kemampuan untuk membangun suatu sistem solidaritas antar agama dan suatu sistem perlindungan terhadap minoritas sehingga kita bisa duduk bersama dan bisa berdialog. Itu jarang terjadi," ungkap Dr. Adnan Anwar, mantan Wakil Sekjen PBNU dan Pengembang Organisasi NU di Kawasan Timur Tengah di Jakarta, Kamis (9/3/2017).

Adnan mencontohkan, belakangan ini di setiap forum pertemuan internasional ulama, baik yang diselenggarakan NU atau lembaga lain, hampir seluruh perwakilan negara Timur Tengah dan Eropa selalu hadir.

Itu menunjukkan bahwa Indonesia ini luar biasa. Sesuatu yang menurut mereka menarik untuk dipelajari, bagaimana kita membangun konstruksi antar agama dalam perpektif NKRI bukan negara islam, meski 80 persen penduduk Indonesia beragama islam.

"Kalau negara lain saja betah dan mau belajar kepada Indonesia, kenapa justru orang Indonesia sendiri yang mempermasalahkan hal tersebut?" tanya Adnan.

Menurut pria yang juga peneliti dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), negara yang selalu ribut (perang) karena konstruksi menggunakan negara islam. Akibatnya malah terjadi perpecahan dan saling bunuh membunuh dan sama-sama berteriak Allahu Akbar. Itu sangat ironis karena sesama umat islam malah saling membunuh

Ia mengungkapkan, fakta itu berbeda 180 derajat dengan kondisi di Indonesia. Di klaim bahwa Indonesia itu mayoritas adalah islam yang rahmatan lil alamin itu betul-betul terjadi dan bukan isapan jempol dan bukan hanya klaim. Faktanya semua bisa hidup berdampingan di Indonesia.

"Indonesia ini kan sudah mempraktekkan sebaga negara Darussalam, negara yang aman. Nah negara yang aman ini menjadi modal untuk membangun peradaban. Bagaimana kalau negaranya perang? tentunya ya tidak mungkin bisa membangun peradaban. Seperti pertempuran yang terjadi di Timur Tengah sana," urai Adnan.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas