Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Testimoni Eks Teroris: Cuci Otak Sehari, Antre Pengantin Bom, Hingga Bertemu 72 Bidadari di Surga

Khairul Ghazali menyebut di Sumatera Utara, khususnya Medan masih banyak anak-anak muda yang antre untuk melakukan aksi teror

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Array Anarcho
Editor: Yudie Thirzano
zoom-in Testimoni Eks Teroris: Cuci Otak Sehari, Antre Pengantin Bom, Hingga Bertemu 72 Bidadari di Surga
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Warga Dusun V, Desa Sambirejo Timur melakukan aksi mengecat jalan sebagai bentuk penolakan kedatangan jenazah terduga teroris Ardial Ramadana di Jalan Makmur Tembung, Deliserdang, Sumatera Utara, Rabu (28/6/2017). Pemakaman jenazah di kawasan kediaman orangtuanya akhirnya dibatalkan, setelah muncul penolakan keras dari warga Dusun V, Desa Sambirejo Timur. TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR 

Waspada Serangan Susulan

Khairul Ghazali mengingatkan agar warga dan pihak keamanan tetap waspada.

Dia memperkirakan penyerangan teroris akan kembali terjadi.

Ustaz Khairul Ghazali, mantan teroris yang pernah ditangkap Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, menyebut masih banyak anak muda yang antri melakukan aksi teror di Medan, Kamis (29/6/2017). TRIBUN MEDAN/ARRAY A ARGUS
Ustaz Khairul Ghazali, mantan teroris yang pernah ditangkap Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, menyebut masih banyak anak muda yang antri melakukan aksi teror di Medan, Kamis (29/6/2017). TRIBUN MEDAN/ARRAY A ARGUS (Tribun Medan/Array A Argus)

Sebab, penyerangan dua terduga teroris yang menewaskan Ipda (anumerta) M Sigalingging menjadi inspirasi pelaku lainnya untuk melakukan aksi yang sama terhadap petugas yang tengah berdinas.

"Ketika melihat temannya yang menggunakan pisau saja berhasil menghabisi seorang petugas, maka yang punya senjata api pastinya juga akan bertindak," ungkap Khairul Ghazali, mantan teroris yang pernah ditangkap karena kasus perampokan Bank CIMB Niaga.

Pisau vs Senjata Api

Ghazali mengatakan, pelaku teror yang punya senjata api akan berpikir dirinya lebih lemah dari pelaku yang hanya menggunakan pisau dapur.

Rekomendasi Untuk Anda

Dengan demikian, pelaku teror yang punya senjata api akan bergerak melakukan tindakan yang lebih besar dari peristiwa sebelumnya.

"Ketika mereka melihat satu temannya mati dalam melakukan aksinya, ini akan menjadi seperti multi vitamin bagi pelaku lainnya. Mereka juga akan melakukan aksi balasan yang tak terduga-duga oleh aparat kita," katanya.

Dalam kesempatan ini, Ghazali bercerita bagaimana dirinya beraksi ketika masih bergabung dengan sel teroris di Medan.

Semua senjata yang mereka miliki akan digunakan untuk menyerang atau menghabisi orang yang bersebrangan pemahamannya dengan mereka.

"Ketika saya masih bergabung dengan jaringan, kami punya AK 47, senjata api revolver bahkan granat nanas. Semua ini akan kami gunakan untuk menjalankan aksi guna mencapai tujuan kami," katanya.

Cuci Otak Pemuda Galau

Khairul Ghazali juga membeberkan betapa mudahnya merekrut pelaku teror di Indonesia.

Kata Ghazali, hanya butuh satu hari untuk menjadikan seseorang sebagai pelaku teror sebagaimana yang terjadi di Polda Sumut beberapa hari lalu.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas