Tribun

Mantan Teroris: Jangan Lawan Intoleransi dengan Intoleransi

Menyudahi radikalisme tak bisa dilakukan dengan memberikan perlawanan serupa. Hal sama berlaku untuk menyudahi intoleransi.

Editor: Y Gustaman
zoom-in Mantan Teroris: Jangan Lawan Intoleransi dengan Intoleransi
Tribunnews.com/Nurmulia Rekso Purnomo
Kurnia Widodo, mantan anggota teroris kelompok Tauhid Wal Jihad yang akhirnya menjadi motivator toleransi, saat berbicara di DPP PKB, Jakarta Pusat, Minggu (23/7/2017). TRIBUNNEWS.COM/NURMULIA REKSO PURNOMO 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menyudahi radikalisme tak bisa dilakukan dengan memberikan perlawanan serupa. Hal sama berlaku untuk menyudahi intoleransi.

Mantan teroris Kurnia Widodo menilai semura orang harus menyadari satu sama lain berbeda. Memang ada hal-hal yang harus dikorbankan tapi demi negeri ini damai.

"Kalau kita lawan intoleransi dengan intoleransi, radikal dengan radikal, tidak selesai," ujar Kurnia dalam diskusi di DPP PKB, Jakarta Pusat, Minggu (23/7/2017).

Mantan anggota Tauhid Wal Jihad dan NII KW IX itu mengaku ia dan kelompoknya tega dan berani menyerang anggota Polri karena mereka melakukan hal sama kepada kelompoknya.

"Zaman saya menembak polisi itu dendam. Ikhwan (saudara laki-laki, red) di Aceh ditembaki, sampai di Jawa ditembaki lagi," ia menambahkan.

Kurnia pernah ikut pelatihan teroris di Aceh sekitar 2010. Menurut dia motivasi teroris menyerang Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, adalah balas dendam atas anggota kelompok teror yang dibunuh polisi.

"Sampai ada media yang memberitakan waktu itu, tiga (teroris tewas) dibalas tiga (polisi tewas)," terang dia.

Untuk mengakhiri masalah radikalisme, orangtua punya peran penting. Selain ikut memantau anaknya tak ikut kelompok radikal dan intoleran, orangtua harus memberikan contoh baik.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas