Tribun

Pemilu 2019

Bagir Manan: Perkarakan Pemilu ke MK, Itu Tanda Belum Siap Kalah

Hasil pemilu berkualitas yang dimaksud Bagir Manan ialah bagaimana hasil akhirnya sejalan dengan peningkatan kualitas demokrasi.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Malvyandie Haryadi
Bagir Manan: Perkarakan Pemilu ke MK, Itu Tanda Belum Siap Kalah
Tribunnews.com/Danang
Mantan Ketua Dewan Pers Indonesia Bagir Manan menyinggung soal hasil pemilu yang berkualitas dalam orasi kebudayaan pada malam resepsi ulang tahun ke-24 Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) di Gedung Bentara Budaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat. 

Laporan wartawan tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Ketua Dewan Pers Indonesia Bagir Manan menyinggung soal hasil pemilu yang berkualitas dalam orasi kebudayaan pada malam resepsi ulang tahun ke-24 Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) di Gedung Bentara Budaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Baca: Culik Bocah 7 Tahun, Pria Ini Manfaatkan Korban untuk Cari Uang dan Jaminan di Foodcourt

Hasil pemilu berkualitas yang dimaksud Bagir Manan ialah bagaimana hasil akhirnya sejalan dengan peningkatan kualitas demokrasi. Seperti misalnya menerima dan berlapang dada bagi setiap mereka yang kalah dalam pemilu.

Pasalnya, mereka yang kalah lazim menggugat dan memperkarakannya ke Mahkamah Konstitusi. Perilaku seperti itu disebut Bagir mencerminkan ketidaksiapan untuk kalah.

"Ada beberapa yang tidak menerima kekalahan calonnya. Misalnya, lazim terjadi memperkarakan pemilu kepada Mahkamah Konstitusi. Itu menandakan kita belum siap kalah," kata Bagir, Jumat (7/9/2018) malam.

Lanjut Bagir, pemilu sebagai sarana demokrasi hanya bisa bermakna bila dasarnya adalah kebebasan. Tapi kebebasan yang tetap dalam pertanggung jawaban.

Pemilu berkualitas juga akan menghasilkan individu-individu yang memiliki komitmen berbangsa dan bernegara.

"Kalau kita ingin pemilu berkualitas bagaimana kita menghasilkan orang yang komit berbangsa dan bernegara," imbuhnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu juga mengatakan, bukan proses demokrasi namanya bila didalamnya mengedepankam praktek-praktek kebohongan, memanipulasi umum, dan menyebarkan kebencian.

Dia juga menekankan bagi mereka yang menduduki posisi penting di sebuah lembaga atau struktur pemerintahan, agar tidak menggunakan kekuasaannya demi merebut kekuasaan yang lain.

"Tidak menggunakan kekuasaan sekedar demi kekuasaan, kita harus menghindari itu. Apalagi menyalahgunakan kekuasaan," pungkas Bagir.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas