Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Bambang Wiyogo: Pancasila Ciptakan Manusia yang Berbudaya dan Beradab

Hal ini disampaikannya saat melaksanakan sosialisasi empat Pilar kebangsaan untuk tokoh masyarakat dan warga di sekitar Kampung Pulo, Cakung Jakarta.

Bambang Wiyogo: Pancasila Ciptakan Manusia yang Berbudaya dan Beradab
Ist/Tribunnews.com
Bambang Wiyogo sosialisasi empat Pilar kebangsaan untuk tokoh masyarakat dan warga di sekitar Kampung Pulo, Cakung Jakarta Timur pada 18 Januari 2019.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota MPR RI Bambang Atmanto Wiyogo gelorakan semangat Pancasila dalam bernegara untuk menciptakan manusia yang berbudaya dan beradab.

Hal ini disampaikannya saat melaksanakan sosialisasi empat Pilar kebangsaan untuk tokoh masyarakat dan warga di sekitar Kampung Pulo, Cakung Jakarta Timur pada 18 Januari 2019.

Anggota DPR asal Daerah Pemilihan DKI Jakarta I ini mengatakan bahwa pancasila sebagai Paradigma Pembangunan adalah sistem nilai acuan, kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir atau jelasnya sebagai sistem nilai yang dijadikan sebagai kerangka landasan, kerangka cara, dan sekaligus sebagai kerangka dalam menentukan arah/tujan bagi yang menyandangnya.

Baca: Polemik Pembebasan Baasyir dengan Syarat Akui Pancasila dan Tanggapan Sejumlah Pihak

Leboh lanjut, katanya, Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang pancasila bertolak dari hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.

“Oleh karena itu, pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya dan beradab,” kata Bambang.

Dia tidak menegaskan bahwa pembangunan sosial budaya yang menghasilkan manusia-manusia biadab, kejam, brutal dan bersifat anarkis jelas bertentangan dengan cita-cita menjadi manusia adil dan beradab.

Oleh karenanya, perlu ada pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan kehidupan sosial berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka merasa dihargai dan diterima sebagai warga bangsa.

“Dengan demikian, pembangunan sosial budaya tidak menciptakan kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial,” katanya.**

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas