Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Paripurna P2APBN ''Dihujani'' Interupsi terkait Rusuh di Manokwari

DPR RI menggelar Rapat Paripurna Masa Persidangan I tahun Persidangan 2019-2020, Selasa (20/8/2019).

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Sanusi
zoom-in Paripurna P2APBN ''Dihujani'' Interupsi terkait Rusuh di Manokwari
Chaerul Umam
Wakil Ketua Komisi IV DPR f-Demokrat asal Papua Barat, Michael Wattimena saat memberikan interupsi terkait rusuh di Manokwari. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - DPR RI menggelar Rapat Paripurna Masa Persidangan I tahun Persidangan 2019-2020, Selasa (20/8/2019).

Rapat dipimpin Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, didampingi Wakil Ketua DPR lainnya, Fahri Hamzah.

Agenda rapat hari ini yakni pembicaraan tingkat II atau pengambilan keputusan terhadap RUU tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN (P2APBN) 2018.

Namun, sebelum pengambilan keputusan tersebut, rapat ''dihujani'' interupsi oleh sejumlah anggota dewan.

Interupsi tersebut menyoroti tindakan persekusi dan rasisme yang dialami mahasiswa Papua yang berujung pada kerusuhan yang terjadi di Manokwari dan kota lainnya di Papua Barat.

Interupsi pertama datang dari Wakil Ketua Komisi IV DPR asal Papua Barat, Michael Wattimena mengatakan, mahasiswa merupakan kaum intelektual yang seharusnya mendapat proteksi dari negara.

Ia juga menyinggung peran dari mahasiswa yang menjadi aktor menumbangkan rezim Orde Baru menuju era Reformasi.

Rekomendasi Untuk Anda

Karena itu, ia meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kejadian yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya yang mengalaim tindakan persekusi.

"Untuk itu melalui forum yang mulia ini supaya diusut dengan tegas kejadian yang terjadi di Surabaya, di Malang dan di Jogja. Sebenarnya ini konten politiknya apa? Apalagi dalam suasana kita baru masuk dalam ulang tahun Kemerdekaan kita yang ke-74. Pasti ada sesuatu yg lain di balik ini semua," kata legislator Demokrat itu.

Interupsi kedua datang dari anggota Komisi VI fraksi Gerindra yang juga berasal dari Papua, Steven Abraham.

Menurutnya, apa yang dialami mahasiswa Papua merupakan tindakan rasisme yang dilakukan oknum TNI-Polri.

Sehingga, ia meminta kasus tersebut segera diusut agar konflik di Papua tidak meluas.

"Saya minta dengan tegas TNI-Polri bahwa kita lihat kemarin video yang beredar luas jelas-jelas sekali ada pihak oknum TNI-Polri yang ikut menyerahkan kata-kata rasis. Ini harus diusut, ditindak. Bila perlu pejabat di atasnya harus dicopot. Pembiaran ini menimbulkan polemik yang luar biasa yang terjadi di tanah Papua," jelasnya.

Interupsi terakhir datang dari anggota DPR fraksi Demokrat asal Papua, Willem Wandik.

Ia meminta pemerintah pusat serius menyikapi persoalan yang terjadi pada mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas