Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Rusuh di Papua

Respons Wiranto Sikapi Permintaan Tokoh Muda Papua Agar Pasukan Militer Ditarik dari Nduga

Tokoh pemuda Papua asal Nduga, Samuel Tabuni menyesalkan sikap pemerintah yang tidak bergerak cepat merespon aksi rasisme

Respons Wiranto Sikapi Permintaan Tokoh Muda Papua Agar Pasukan Militer Ditarik dari Nduga
Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda
Tokoh pemuda Papua asal Nduga, Samuel Tabuni saat didampingi Menkopolhukam Wiranto, di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Jumat (30/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tokoh pemuda Papua asal Nduga, Samuel Tabuni menyesalkan sikap pemerintah yang tidak bergerak cepat merespon aksi rasisme kepada mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur.

Hal itu pula yang menjadi dasar kemarahan masyarakat Papua yang berujung terjadinya kerusuhan dan perusakan sejumlah fasilitas.

Samuel pun menyampaikan, bagaimana para pelaku rasisme baru ditindak setelah terjadi unjuk rasa.

Hal itu disampaikan Samuel saat didampingi Menkopolhukam Wiranto, di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Jumat (30/8/2019).

Baca: Efek Rumah Kaca Bawakan Lagu Mosi Tidak Percaya untuk Pansel Capim KPK di Gedung Merah Putih

Baca: Frustrasi Disuruh Istri Jual Warisan, Kakek 65 Tahun Memilih Mengakhiri Hidupnya di Kamar Mandi

Baca: Kantor dan Berkas Penetapan Anggota DPRD Terpilih Ludes Dibakar, Ini Harapan KPU Papua

"Kenapa proses pembiaran penegakkan hukum tidak dilakukan secara baik dan benar. Khusus kemarin di Surabaya. Kita harus demo baru proses. Padahal proses rasisme itu sudah berlangsung lama. Itu menjadi amarah masyarakat papua saat ini," ujar Samuel.

Pembiaran penegakkan hukum, kata Samuel, tergambar dalam banyaknya operasi militer di Nduga.

Sehingga membuat anak muda di sana tidak diberi ruang untuk terlibat dalam kebijakan nasional maupun provinsi.

Hal ini dianggap tidak baik untuk masa depan anak-anak Papua.

"Terakhir saya minta ke pak Menko (Wiranto, Red), bahwa pasukan di Nduga itu ditarik, karena masyarakat saya semua ada di luar," kata Samuel.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Adi Suhendi
  Loading comments...

Berita Terkait :#Rusuh di Papua

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas