Jika Gabung Kabinet Jokowi, Pengamat Sarankan Ini ke Prabowo Agar Tak Ditinggal Pendukungnya
Ia menyebutkan, mantan Danjen Kopassus itu harus menggunakan sejumlah strategi agar resistensi suara partainya tidak tergerus pada lima tahun mendatan
Editor: Johnson Simanjuntak
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Igman Ibrahim
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Indobarometer, Muhammad Qodari mengatakan, merapatnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dari oposisi menjadi bagian dari kabinet presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dinilai berimplikasi besar terhadap dukungan pada pemilu 2024 mendatang.
Ia menyebutkan, mantan Danjen Kopassus itu harus menggunakan sejumlah strategi agar resistensi suara partainya tidak tergerus pada lima tahun mendatang.
Salah satunya, kata Qodari, dengan mendorong figur yang tepat dan kompeten yang ditunjukkan dalam kabinet kerja Jokowi-Ma'ruf Amin, agar pendukungnya tidak kecewa.
Baca: Gerindra dan Demokrat Dapat Kursi Menteri? Surya Paloh Bilang Begini
"Gerindra kalau masuk kabinet harus memilih menteri yang benar-benar tokcer dan kinerja harus sangat bagus apalagi kalau betul-betul dikasih portofolio yang strategis," kata Qodari dalam sebuah acara diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (12/10/2019).
Menurutnya, kinerja kader yang diusung partai Gerindra dalam kabinet kerja Jokowi nanti akan menahan kemungkinan partai berlambang kepala burung garuda itu ditinggalkan pendukungnya.
"Selama ini yang jadi andalan Gerindra seperti pangan energi dan pertahanan. Kalau hasilnya bagus, justru pamor Gerindra akan bagus dan bisa dapat kenaikan suara," ungkapnya.
Di sisi lain, Qodari tak bisa menyebutkan ihwal siapa kader partai Gerindra yang pantas diajukan ke kabinet kerja Jokowi-Ma'ruf nanti.
Baca: Luhut: Jokowi Tak Pernah Mau Batalkan Perpres SBY Soal Reklamasi Teluk Benoa
Pasalnya, banyak kader partai besutan Prabowo Subianto itu hanya berpengalaman di lembaga legislatif.
"Di Gerindra umumnya pengalaman di legislatif bukan di eksekutif karena Gerindra semenjak berdiri, belum pernah ada perwakilannya di kabinet. Selalu di oposisi," pungkasnya.