Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Christianto Wibisono: Sebuah 'Wishful Thinking' Indonesia 2024

Menurutnya, mendalami sejarah klimaks dan antiklimaks kejayaan Bung Karno merupakan pelajaraan berharga bagi elite sekitar Jokowi 2020.

Christianto Wibisono: Sebuah 'Wishful Thinking' Indonesia 2024
Ist
Christianto Wibisono, Founder dan Chairman PT Pusat Data Bisnis Indonesia 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Jokowi dengan keras mengecam para pencari muka, yang mau menampar mukanya dan menjerumuskan dirinya dengan langkah menjilat wacana perpanjangan masa jabatan 3 periode.

Christianto Wibisono (CW), kelahiran 10 April 1945, Founder dan Chairman PT Pusat Data Bisnis Indonesia mengingatkan hal itu kepada Tribunnews.com Rabu ini (4/12/2019).

"Saya teringat pada pidato Presiden Sukarno 25 Februari 1965 ketika membubarkan BPS dan membreidel 21 surat kabar terkait BPS. Organisasi BPS, Badan Pendukung Sukarnoisme justru mau menggulingkan dan membunuh Sukarnoisme dan Sukarno," papar CW.

Menurutnya, mendalami sejarah klimaks dan antiklimaks kejayaan Bung Karno merupakan pelajaraan berharga bagi elite sekitar Jokowi 2020.

"Mengapa? Karena Bung Karno sedang berada pada puncak kekuasaan dan kinerja luar biasa. Memenangkan Irian Barat tanpa perang dengan mediasi Presiden Kennedy pada 17 Agustus 1962. Menyelenggarakan Asian Games IV Agustus 1962. Diangkat jadi Presiden Seumur Hidup pada SU MPRS II, Mei 1963 beberapa hari setelah insiden rasialis 10 Mei 1963 anti Tionghoa di Bandung. Kemudian, berkonfrontasi dengan Malaysia yang lahir 16 September 1963, yang tidak sempat didamaikan oleh alm Presiden Kennedy yang gugur 23 Nov 1963, meskipun Jaksa Agung Robert Kennedy sempat mondar-mandir ingin mendamaikan Presiden Sukarno dan PM Malaysia Tengku Abdulrahman."

CW juga menambahkan, di balik kemercusuaran sukses Irian Barat, Asian Games IV, disusul Ganefo atau Olimpiade tandingan 1963, yang mengakibatkan Indonesia diskors tidak bisa ikut Olimpiade Tokyo 1964.

Semua itu hanya karena solidaritas Indonesia menolak kehadiran Israel dan Taiwan ke Asian Games IV di Jakarta Agustus 1962.

"Situasi politik domestik bagaikan api dalam sekam. Dalam suatu sidang kabinet di Istana Bogor, 1964 Chairul Saleh sempat mencabut pistol dan menantang duel Ketua CC PKI DN Aidit. Chairul murka sekali karena manuver Aidit membekukan partai Murba dan ofensif terhadap kubu anti komunis dari seniman penanda tangan Manifest Kebudayaan, dan kemudian BPS."

Chairul Saleh, tambah CW, mempertahankan posisi rangkap sebagai Ketua MPRS dan Waperdam III, sedang Adam Malik dilengserkan ke samping sebagai Menko Pelaksanaan Ekonomi Terpimpin, setelah didemo oleh istri Waperdam Menlu dr Subandrio sebagai Menteri Perdagangan yang gagal menstablikan harga beras 1964 -1966.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...

Baca Juga

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas