Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Tanggapi Revisi UN, Kemendikbud: Evaluasi Siswa Dilakukan Guru, Bukan Negara

Kritik Wacana Revisi UN, Plt Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Totok Suprayitno Sebut Evaluasi Terhadap Siswa Dilakukan oleh Guru, Bukan Negara

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Tanggapi Revisi UN, Kemendikbud: Evaluasi Siswa Dilakukan Guru, Bukan Negara
Tangkap Layar YouTube Mata Najwa
Plt Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Totok Suprayitno memberikan tanggapan terkait pengganti Ujian Nasional (UN). 

TRIBUNNEWS.COM - Plt Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Totok Suprayitno memberikan tanggapan terkait pengganti Ujian Nasional (UN).

Menurut Totok Suprayitno, sudah menjadi tanggung jawab tenaga pendidik serta sekolah untuk memberikan kelulusan.

Ia menegaskan, hasil evaluasi peserta didik dilakukan oleh guru dan Undang-undang.

"Undang-undang mengatakan, yang punya hak meluluskan adalah sekolah, atas dasar evaluasi terhadap siswa yang dilakukan guru, bukan negara," tutur Totok yang Tribunnews kutip melalui tayangan YouTube Mata Najwa, Rabu (18/12/2019).

Totok Suprayitno juga membantah tidak adanya tantangan dalam revisi UN.

Menurut dia, tantangan dunia pendidikan tidak hanya datang di UN atau pada tingkat nasional.

"Setiap hari, guru memberikan the right challenge (tantangan yang tepat) kepada setiap anak-anak," kata Totok.

Rekomendasi Untuk Anda

"Karena, tantangan terlalu berat, (dikhawatirkan) stres. Tantangan terlalu ringan, (merasa) bosan," tuturnya.

Ia juga menegaskan, pemenuhan tantangan dengan porsi yang tepat merupakan tanggung jawab guru.

Sudewo: UN Dihapus Tidak Ada Tantangan

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Fraksi Gerindra, Sudewo mengaku tidak setuju jika UN dihapus.

"Saya sependapat dengan Pak Jusuf Kalla, coba bayangkan kalau tidak ada UN, tidak ada tantangan bagi siswa," ujar Sudewo masih dari acara yang sama.

Sudewo menilai, jika UN dihapus akan membentuk karakter yang tidak bagus dan mentalnya menjadi lembek, serta tidak memiliki nilai juang.

"Siswa coba ditanya, mereka pasti suka ria kalau UN dihapus," ungkapnya.

"Jadi meskipun dia itu punya kekuatan fisik, tapi mental belum tentu," tambahnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas