Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dokter Berguguran di Tengah Wabah Covid-19, Ini Langkah PB IDI

IDI mengelurkan sejumlah imbauan kepada dokter dan petugas medis untuk mengurangi risiko petugas medis atau dokter terpapar virus Corona.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Daryono
zoom-in Dokter Berguguran di Tengah Wabah Covid-19, Ini Langkah PB IDI
FREDERICK FLORIN / AFP
Staf medis mendorong seorang pasien ke dalam helikopter medis Prancis NH90 dari RHC ke-1 (Resimen Helikopter Tempur ke-1) di Strasbourg, pada 30 Maret 2020, untuk dievakuasi ke rumah sakit Jerman di tengah pecahnya COVID-19. 

TRIBUNNEWS.COM - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengelurkan sejumlah imbauan kepada dokter dan petugas medis untuk mengurangi risiko petugas medis atau dokter terpapar virus Corona

Wakil Ketua Umum IDI, Adib Khumairi mengatakan hingga saat ini terdapat 18 dokter yang meninggal dunia sejak Covid-19 muncul di Indonesia. 

Jumlah itu di luar dokter gigi yang meninggal.

"Kalau tidak salah (total) sekitar 18 dokter. Itu belum sama dokter gigi. Ada juga informasi hari ini dokter gigi yang meninggal satu. Ya mungkin ada sekitar 4 atau 5 (dokter gigi meninggal)," terang dia. 

Terkait banyaknya dokter yang meninggal di tengah wabah, Adib mengatakan pihaknya mengeluarkan sejumlah imbauan. 

Baca: Bertambah Lagi Dokter Meninggal, IDI Kabarkan dr Lukman Shebubakar Tutup Usia

Yang pertama, IDI meminta kepada seluruh dokter yang melakukan pelayanan harus melakukan proteksi diri.

"Semua harus memakai APD (alat pelindung diri), terlepas ketiadaan (APD). Makanya ada improviasasi memakai jas hujan. Saat ini, sebelum bantuan APD standart datang, mereka harus memproteksi diri. Karena kita terus terang tidak tahu pasien itu positif atau tidak," ujar dia. 

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu, Adib mengatakan pihaknya juga mengimbau agar rumah sakit mengurangi frekuensi pelayanan di poli atau layanan rawat jalan. 

Hal ini agar intensitas kontak dengan pasien berkurang. 

Pengurangan layanan poli, lanjut Adib, juga agar petugas medis lebih fokus pada layananan emergensi.

"Jadi layawan rata jalan dikurangi frekuensinya, dibatasi jumlahnya sekaligus mengurangi kontak dan efek kelelahan tenaga medis."

"Selain itu juga semua pelayanan difokuskan kalau ada emergensi sehingga risikoterpapar lebih rendah karena kita tidak tahu pasien yang datang itu positif atau tidak karena datang juga yang memang dia tidak ada gejala," beber dia. 

Soal Keterbatasan APD

Terkait kebutuhan APD, Adib mengatakan secara kuantiti, kebutuhan APD masih kurang. 

Namun demikian, distribusi APD dilakukan dengan memperhatikan prioritas yakni diutamakan untuk petugas medis yang berada di area perawatan. 

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas