Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tanggapi Pembakaran Bendera PDIP, Ketum Pagar Nusa: Jangan Impor Konflik Timor Tengah ke Indonesia

Nabiel Haroen menyatakan jangan sampai ada kelompok yang berupaya memecah belah bangsa dan mengadu domba umat Islam dengan kelompok nasionalis

Tanggapi Pembakaran Bendera PDIP, Ketum Pagar Nusa: Jangan Impor Konflik Timor Tengah ke Indonesia
Tribunnews/Herudin
Ratusan kader PDI Perjuangan melakukan demonstrasi di depan kantor Polisi Resort (Polres) Metro Jakarta Timur, Kamis (25/6/2020). Aksi tersebut sebagai respon dari pembakaran bendera PDI Perjuangan yang dilakukan sejumlah peserta demonstrasi penolakan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) di depan DPR Rabu (24/6/2020) kemarin. Tribunnews/Herudin 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hasanudin Aco

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum PP Pagar Nusa Nahdatul Ulama (NU), M.Nabiel Haroen, menanggapi demonstrasi terhadap RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang berujung pada pembakaran bendera PDI Perjuangan (PDIP) dan upaya mendelegitimasi Bung Karno. 

Pihaknya pun meminta agar pihak-pihak tertentu tak berusaha mengimpor gerakan konflik Timur Tengah ke Indonesia.

Nabiel Haroen menyatakan jangan sampai ada kelompok yang berupaya memecah belah bangsa dan mengadu domba umat Islam dengan kelompok nasionalis. Bendera itu simbol kehormatan dan jati diri. 

"Saya yakin orang-orang yang melakukan aksi provokasi itulah yang membawa bendera PKI dan membakarnya bersama bendera PDI Perjuangan itulah yang memiliki aksi tersembunyi. Pihak kepolisian harus berani menangkap para provokator tersebut," kata Nabiel Haroen, Senin (29/6/2020).

Dia melanjutkan, Nahdliyyin dan kelompok Soekarnois itu saudara.

Baca: Niat Beli iPhone 11 Rp 6 Juta, Wanita Ini Malah Dikirimi Kartu Remi

Keduanya sama-sama berjuang mendirikan Republik Indonesia. 

Karena itulah mengapa Bung Karno sangat dekat dengan NU, demikian halnya dengan PDIP. 

Bung Karno juga mendapat pengukuhan dari NU sebagai waliyyul amri ad-dharuri bis-syaukah, yakni pemimpin negara di masa transisi yang punya legitimasi untuk memimpin bangsa.

Dilanjutkannya, Bung Karno juga dikukuhkan sebagai Pahlawan Islam melalui Konferensi Islam Asia Afrika pada 6-14 Maret 1965 di Bandung. 

Halaman
12
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Eko Sutriyanto
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas