Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Asuransi Jiwasraya

Sempat Tertunda karena Terdakwa Reaktif Covid-19, Sidang Korupsi Jiwasraya Kembali Digelar

Sidang mengalami penundaan, karena Hendrisman Rahim, mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya dinyatakan reaktif rapid tes Covid-19.

Sempat Tertunda karena Terdakwa Reaktif Covid-19, Sidang Korupsi Jiwasraya Kembali Digelar
Tribunnews/Irwan Rismawan
Suasana sidang lanjutan kasus korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2020). Sidang beragenda mendengarkan keterangan lima orang saksi yang dihadirkan JPU dari Kejaksaan Agung. Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sidang perkara dugaan korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya kembali bergulir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Pada Senin (6/7/2020) sidang beragenda pemeriksaan saksi. Direktur Utama Jiwasraya, Hexana Tri Sasongko, memberikan keterangan sebagai saksi di persidangan.

Hexana memberikan keterangan lanjutan setelah sidang sempat mengalami penundaan, pada Rabu (1/7/2020).

Sidang mengalami penundaan, karena Hendrisman Rahim, mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya dinyatakan reaktif rapid tes Covid-19.

Tim penasihat hukum Heru Hidayat, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera, mengungkap fakta di persidangan.

Kresna Hutauruk, anggota tim penasihat hukum Heru Hidayat mengungkapkan, PT Asuransi Jiwasraya Tbk mempunyai deposito Rp 725 miliar dan obligasi sebesar Rp 4,5 triliun, pada 2018.

Selain deposito, kata dia, ada suntikan dana nasabah lebih dari Rp 5 triliun. Lalu, ada laporan reksadana Jiwasraya di PT Millenium Capital yang kurang dari Rp 800 miliar ada yang ingin mengambil alih sebesar Rp 1,45 triliun.

Setelah membeberkan temuan itu, tim penasihat hukum mengkonfirmasi kepada Hexana mengenai alasan PT Asuransi Jiwasraya mengumumkan gagal bayar pada 2018 sebesar Rp 802 miliar pada produk JS Saving Plan.

Menurut tim kuasa hukum, pengumuman gagal bayar itu memicu "rush" sehingga kemudian kewajiban mengembalikan dana kepada nasabah membengkak pada awal 2020 menjadi Rp12,4 Triliun.

Halaman
123
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas