Tribun

Dalam Webinar KSDI, Qodari Tawarkan Strategi Lokomotif Kereta Api untuk Hadapi Covid-19

Acara ini pun ditutup oleh Mendagri Tito Karnavian yang mengikuti webinar yang berlangsung selama lima jam ini dari awal hinga akhir.

Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Dalam Webinar KSDI, Qodari Tawarkan Strategi Lokomotif Kereta Api untuk Hadapi Covid-19
ist
Direktur Eksekutif Indo Barrometer, M Quodari. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kurva Covid-19 di Indonesia terus naik sebab tindakan preventif belum maksimal.

Tindakan preventif itu adalah testing, tracing and treatment serta program BKS, alias bagi-bagi masker, kampanye 3 M (menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan) serta sanksi pelanggaran Covid-19.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari saat menjadi narasumber dalam acara Webinar Nasional Kedua Kelompok Studi Demokrasi Indonesia (KSDI) dengan tema “Strategi Menurunkan Covid-19, Menaikkan Ekonomi” yang diikuti oleh 500 partisipan melalui aplikasi zoom dan 1.300 peserta melalui Youtube, Minggu (20/9/2020) malam.

Dalam webinar yang dipandu Ketua Dewan Pembina KSDI Maruarar Sirait ini, Qodari mengatakan bahwa testing berguna untuk mengidentifikasi orang terinfeksi Covid-19 untuk selanjutnya dilepas karena negatif, diisolasi atau dirawat agar tidak menular pada orang lain atau memburuk.

Qoidari, Marruara avian.j
Qodari, Maruarar dan Mendagri Tiito Karnavian.

Sementara tracing berguna untuk menelusuri semua orang yang berinteraksi erat dengan pasien Covid-19, untuk selanjutnya dikarantina dan dites karena potensial tertular, sementara yang tanpa gejala juga tetap harus dikarantina dan dites karena 86 persen adalah orang tak bergejala (OTG).

Sementara treatment adalah dengan menyediakan fasilitas isolasi bagi OTG dan gejala ringan, serta fasilitas perawatan bagi pasien Covid-19 gejala sedang dan berat.

“Testing di Indonesia jauh dibawah standard WHO yakni 35 persennya. Standard WHO adalah 1.000 orang dites per satu juta penduduk per pekan. Untuk Indonesia dengan 260 juta penduduk maka targetnya adalah 267.700 tes per pekan," kata Qodari

Qodari juga mengatakan bahwa tracing di Indonesia lebih buruk dari testing. Rasio tracing Indonesia adalah 3,64, yang artinya hanya 12 persen saja dari standard WHO yaitu 30 orang.

Aspek tracing ini sangat terabaikan dibanding testing padahal testing tanpa diikuti tracing tidak berguna banyak untuk menurunkan kasus.

Contohnya adalah DKI Jakarta yang rasio testing lima kali lipat standard WHO tapi rasio tracing hanya 1,9 atau 6 perses tandard WHO. Padahal tracing ini hendaknya satu paket dengan karantina.

“Setiap kontak erat yang teridentifikasi harus dimasukkan karantina oleh pemerintah/satgas agar tidak berkeliaran dan menularkan Covid-19 pada orang lain tanpa mereka sadari. Kontak erat tanpa gejala pun harus dites usap, bukan hanya yang bergejala. Karena itu hemat kami, istilah yang lebih tepat adalah Lacak dan Karantina. Bukan Lacak dan Isolasi,” tegas Qodari.

Qodari pun merekomendasikan agar program testing ini harus ditingkatkan jumlahnya agar merata seluruh provinsi sesuai standard WHO. Pun demikian, tracing juga harus ditingkatkan rasionya agar sesuai standard WHO.

Sebab tracing sangat besar dampaknya dalam menurunkan penyebaran Covid-19. Testing pun harus diprioritaskan ke kontak erat pasien agar berdampak.

“Jangan ke umum atau kejar setoran. Terus harus membentuk Tim Pemburu Covid (TPC) yang berisi aparat gabungan, khususnya dari kepolisian karena memiliki skill tracing. Tim ini harus besar karena kasus Covid-19 tiap hari bertambah banyak. Tapi harus dibentuk kalau serius mau menurunkan kurva. Dan bagian inheren dari tracing adalah karantina. Semua kontak erat adalah suspek. Jadi harus dikarantina untuk selanjutnya dites,” jelas Qodari.

Baca: Pasangan Calon Kepala Daerah Positif Covid-19 Bisa Diganti Jika Tak Sembuh dalam 14 Hari

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas