Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pilkada Serentak 2020

Pengamat : Belum Ada Alasan Solid dari Parpol yang Dorong Tak Adanya Pilkada 2022 

Analis politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengaku belum menemukan alasan kuat dibalik parpol yang mendorong tak adanya Pilkada 2022 dan 2023

Pengamat : Belum Ada Alasan Solid dari Parpol yang Dorong Tak Adanya Pilkada 2022 
WARTA KOTA/WARTA KOTA/NUR ICHSAN
SIMULASI PEMUNGUTAN SUARA - KPU Kota Tangerang Selatan, menggelar simulasi pemungutan suara pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Tangerang Selatan, di lapangan PTPN VIII, Serpong, Sabtu (12/9/2020). Simulasi dilakukan di TPS 18 dan diikuti 419 orang pemilih dari Kelurahan Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan. Kegiatan ini disaksikan langsung Ketua KPU Pusat, Arief Budiman dan dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Pilkada Kota Tangerang Selatan akan digelar pada 9 Desember mendatang. WARTA KOTA/NUR ICHSAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Analis politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengaku belum menemukan alasan kuat dibalik partai politik yang mendorong tak adanya Pilkada 2022 dan 2023. 

Adi menilai tak ada alasan yang jelas dari parpol yang cenderung menginginkan adanya Pilkada Serentak 2024.

"Kan tidak ada argumen yang kuat sebenarnya mengapa 2022 dan 2023 ini ditiadakan. Alasan efisiensi tidak bisa menjawab itu," ujar Adi, ketika dihubungi Tribunnews.com, Kamis (28/1/2021). 

"Saya belum nemu gitu alasan solid atau kuat apa yang kemudian membuat partai itu tidak mau mengadakan Pilkada 2022 dan 2023. Nggak ada alasan yang membuat kita bisa menerima dengan baik, baik alasan demokrasi maupun alasan pemulihan ekonomi," imbuhnya. 

Baca juga: Fraksi PPP Inginkan Pilkada Serentak Nasional Digelar 2024

Baca juga: PDIP : Perubahan UU Pilkada Serentak Belum Diperlukan

Adi pun meminta pemerintah untuk konsisten.

Dia merujuk pada Pilkada 2020 yang tetap dipaksakan sebagai upaya meningkatkan stimulus perekonomian Indonesia yang terdampak Covid-19

Menurutnya, Pilkada 2022 dan 2023 justru dapat menjadi momen yang tepat dalam menggenjot laju ekonomi yang hingga saat ini masih terseok-seok akibat Covid-19

"Karena kan kalau ada pilkada 2022 dan 2023, ini kan ekonomi di daerah yang ada pilkada berdenyut, terutama kelas ekonomi menengah ke bawah," jelasnya. 

"Kan kalau Pilkada itu banyak relawan, tim sukses, mencetak atribut, baliho, itu kan semua bergerak. Akan banyak orang yang tersedot tenaganya untuk bekerja politik dan itu akan perlahan membangkitkan ekonomi," imbuh Adi. 

Ikuti kami di
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Theresia Felisiani
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas