Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Anggota DPD Soroti Fenomena Oknum Polisi yang Konsumsi Miras dan Salah Gunakan Narkoba

Anggota DPD RI, Abdul Rachman Thaha, menyoroti penyalahgunaan narkoba dan konsumsi minuman keras (miras) yang dilakukan oleh oknum anggota Polri.

Anggota DPD Soroti Fenomena Oknum Polisi yang Konsumsi Miras dan Salah Gunakan Narkoba
Megapolitan kompas
Ilustrasi sabu - Anggota DPD RI, Abdul Rachman Thaha, menyoroti penyalahgunaan narkoba dan konsumsi minuman keras (miras) yang dilakukan oleh oknum anggota Polri. 

TRIBUNNEWS.COM - Anggota DPD RI asal Sulawesi Tengah, Abdul Rachman Thaha, menyoroti penyalahgunaan narkoba dan konsumsi minuman keras (miras) yang dilakukan oleh sejumlah oknum di lingkungan Polri.

Thaha mengungkapkan, memerlukan data untuk memastikan apakah penyalahgunaan narkoba dan konsumsi miras sudah menjadi fenomena di lingkungan Polri.

Namun, Thaha menyebut ada data global yang bisa dipakai sebagai pembanding.

"Misal, estimasi penyalahgunaan narkoba di kalangan sipil adalah 10 persen, sementara di kepolisian 20 hingga 30 persen. Pada personel baru, problem miras 0 persen. Tapi masuk ke tahun kedua, naik menjadi 27 persen. Naik karir ke tahun keempat, bertambah ke 36 persen," ungkapnya kepada Tribunnews.com, Sabtu (27/2/2021).

Mengacu data tersebut, Thaha menyebut perlu adanya langkah cepat yang diambil agar problem serupa tidak terjadi di Indonesia.

"Masalah penyalahgunaan narkoba dan konsumi miras jangan dinilai mengkhawatirkan hanya ketika dikaitkan ke perilaku brutal oknum polisi, seperti kasus Cengkareng," ungkap Thaha.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Abdul Rachman Thaha
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Abdul Rachman Thaha (Istimewa)

Baca juga: Bripka CS Pelaku Penembakan di Cengkareng Ngamuk saat Ditagih Rp 3,3 Juta, Sebut Terlalu Mahal

Thaha menyebut, penting ditelisik pengaruh narkoba dan miras terhadap tingkat perceraian dan KDRT di kalangan personel.

Lebih lanjut, Thaha mengungkapkan jika dampak paling serius narkoba dan miras justru pada dimensi profesionalisme polisi sendiri.

"Yaitu, tingkat absensi, kelambanan respon personel, ketidakkompakan kerja antarpersonel, dan kemungkinan terjadinya penyimpangan pada penanganan kasus-kasus pidana," ungkapnya.

Karena itu, lanjut Thaha, ketika diketahui ada personel yang memakai narkoba dan miras, selekasnya Polri perlu melakukan audit kerja personel yang bersangkutan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Wahyu Gilang Putranto
Editor: Daryono
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas