Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Mendikbud Nadiem: Intoleransi Jadi Pemicu Terjadinya Perundungan di Sekolah

Nadiem menyebut intoleransi itu menjadi salah satu penyebab terjadinya perundungan atau bully di lingkungan sekolah.

Mendikbud Nadiem: Intoleransi Jadi Pemicu Terjadinya Perundungan di Sekolah
istimewa
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan praktik intoleransi masih ditemui di dunia pendidikan, lingkungan sekolah. Hal ini menjadi salah satu tantangan dalam dunia pedidikan di Indonesia.

Nadiem menyebut intoleransi itu menjadi salah satu penyebab terjadinya perundungan atau bully di lingkungan sekolah.

“Kami menyadari praktik intoleransi masih ada di dunia pendidikan dan menjadi salah satu penyebab terjadinya perundungan atau bully di lingkungan sekolah,” ujar Nadiem dalam sambutannya dalam Convey Day 2021: Berbeda Tetap Bersama,’ seperti disiarkan dalam Channel Youtube CONVEY Indonesia, Jumat (5/3/2021).

Baca juga: Kepala BNPT: Cegah Intoleransi dengan Penguatan Kearifan Lokal

Padahal kebersamaan dalam perbedaan merupakan gagasan dasar negara yang tertuang dalam semboyan Bhinneka Tunggal.

Oleh karena itu kata Nadiem, sudah sepantasnya semua anak bangsa bersama-sama terus menyalakan semangat toleransi dan gotong royong antar umat beragama, suku, ras dan golongan.

Selain itu ,menjadikan sekolah sebagai ruang dan lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar juga merupakan gagasan dasar dari program Merdeka Belajar.

Baca juga: Indonesia adalah Contoh Damainya Negeri yang Dihiasi Toleransi

Salah satu bentuknya diwujudkan dengan menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang penggunaan serangam dan atribut keagamaan di lingkungan sekolah.

“Salah satu yang baru saja kami upayakan adalah mendorong sekolah dan pemerintah daerah agar memberikan hak penuh kepada siswa dan orang tua terkait dengan penggunaan seragam atribut agama,” jelasnya.

Dengan begitu diharapkan pemaksaan dan pembatasan hak tidak akan terjadi lagi di lingkungan sekolah.

Baca juga: Kapolri Listyo Sigit akan Tindak Tegas Kompol Yuni Cs, Sebut Tak Ada Toleransi

Tenggang rasa di antara sesama siswa ataupun antara guru dan siswa pun bisa semakin terus menguat.

Karena itu dia mengajak warga duna pendidikan untuk terus menyalakan obor toleransi untuk bersama menjadikan Indonesia sebagai negara maju dengan menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghargai satu sama lain dan mencintai perbedaan diantara anak bangsa.

“Mari kita terus meyakini bahwa kita memang berbeda tapi kita tetap bersama,” ucapnya mengakhiri. (*)

Ikuti kami di
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas