Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

Komnas KIPI: Butuh Autopsi untuk Tahu Penyebab Meninggalnya Pria di Jakarta usai Vaksin AstraZeneca

Ketua Komnas KIPI, Hindra Irawan Satari, angkat bicara soal penyebab meninggalnya pria berusia 22 tahun asal Buaran, Jakarta.

Komnas KIPI: Butuh Autopsi untuk Tahu Penyebab Meninggalnya Pria di Jakarta usai Vaksin AstraZeneca
ISTIMEWA
Keluarga berdoa di makam Trio Fauqi Virdaus yang berlokasi di Duren Sawit Jakarta Timur. Almarhum meninggal usai menerima vaksinasi Covid-19 jenis AstraZeneca. 

TRIBUNNEWS.COM - Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Hindra Irawan Satari, angkat bicara soal penyebab meninggalnya pria berusia 22 tahun asal Buaran, Jakarta.

Menurut Hindra, hingga kini masih belum ada cukup bukti yang menyatakan meninggalnya Trio Fauqi Virdaus apakah terkait vaksin atau tidak.

Namun ia kembali menegaskan, bahwa kasus ini juga tidak bisa dibilang tidak ada kaitannya dengan vaksin.

"Jadi kita belum cukup bukti yang pasti untuk menyatakan itu erkait dengan vaksin, namun kita tidak nisa bilang itu nggak terkait vaksin," kata Hindra dikutip dari tayangan video di kanal YouTube Kompas TV, Rabu (12/5/2021).

Hindra pun menjelaskan, jika di negara barat kasus seperti ini biasanya dibuktikan dengan adanya autopsi.

Baca juga: DPR Minta Kemenkes Prioritaskan Penanganan Covid-19 dan Vaksinasi

Karena mereka memiliki undang-undang yag harus ditaati, yakni dengan dilakukan bedah jenazah.

"Jadi memang bukti-bukti yang ada itu memang ada autopsinya. Kalau yang fatal kan memang itu undang-undangnya harus dilakukan bedah jenazah," terangnya.

Hindra pun mengaku sulit untuk melakukan auttopsi, karena perlu izin dari keluarga, serta adanya faktor lain yang tidak mudah untuk didapatkan.

"Tidak mudah ya untuk mendapatkan izin untuk melakukan autopsi. Kalau soal kepastian dari autopsi, yang mungkin sulit ya karena harus dapat izin dari keluarga."

"Sedangkan di Indonesia ada adat ada istiadat, ada suku, ada agama, itu faktor-faktor lain yang tidak mudah kita dapatkan. Kita juga tidak dapat memaksa. Kalau di barat kan ada undang-undang jadi enggak bisa menolak," ungkap Hindra.

Baca juga: Pria 22 Tahun Diduga Meninggal Usai Disuntik AstraZeneca, Satgas: Vaksinasi Masih Berjalan

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Faryyanida Putwiliani
Editor: Pravitri Retno Widyastuti
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas