Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tokoh Pemuda Papua Sebut Hasil Survei BIN soal Otsus Papua Tidak Masuk Akal

Bernolfus Tingge mengaku ragu dengan hasil temuan survei Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyebutkan 82 persen warga Papua setuju Otsus.

Tokoh Pemuda Papua Sebut Hasil Survei BIN soal Otsus Papua Tidak Masuk Akal
Tribunnews/Irwan Rismawan
Intelektual muda Papua dan Papua Barat menggelar aksi festival budaya di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Senin (1/3/21). Mereka mendukung pemerintah melanjutkan Otonomi Khusus Jilid II untuk Papua dan menolak berbagai bentuk provokasi yang dapat memecah belah NKRI. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tokoh pemuda Papua asal Kabupaten Boven Digoel, Bernolfus Tingge mengaku ragu dengan hasil temuan survei Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyebutkan 82 persen warga Papua setuju otonomi khusus (otsus).

Hasil survei tersebut sesungguhnya tidak sesuai dengan situasi dan kondisi factual yang ada di lapangan.

“Bagaimana ya, survei tersebut tampak sekali dibuat-buat untuk kepentingen penggriringan opini pemerintah saja atau pihak yang punya kepentingan di Papua. Padahal fakta sebenarnya saya bisa pastikan tidak seperti itu. Setidaknya kami yang memahami kebatinan sebagai orang-orang asil Papua,” kata Bernol dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (29/5/2021).

Baca juga: Bahas soal Papua, Pansus Otsus Raker Bareng Kabais TNI, Wakabin, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas

Bernol yang juga Ketua Aliansi Pemuda Boven Digoel tersebut mengatakan  Otsus buat orang Papua hampir pasti dinyatakan gagal.

Hal yang paling nyata di depan mata kata dia adalah situasi ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan orang-orang Papua yang sampai hari ini masih saja tertinggal dari daerah-daerah lain di Indonesia.

“Jadi parameter orang Papua setuju Otsus itu dari mana, sementara mereka tidak merasakan sama sekali dampaknya. Bahkan hidup kami orang-orang asli Papua makin hari makin miris dan tersingkir. Ini saja sudah jelas faktanya yang bisa membantah dengan sendirinya hasil survei tersebut,” ucapnya.

Bernol menambahkan, terkait Otonomi Khusus Papua perlu formulasi dan evaluasi yang betul-betul menyeluruh, tidak setengah-setengah.

Apalagi hanya memuaat kepentingan elite tertentu dan bukan mencerminakan aspirasi asli orang-orang Papua.

“Katakan saja ini Otsus mau dilanjutkan, betul-betul harus dibuat evaulasi total. Baik dari sisi regulasi maupun implementasinya. Yang kami paham selama ini masih banyak point dalam UU OTsus tidak dijalankan secara konsekuen, banyak yang tidak jalan, termasuk tentu saja dana Otsu situ masyarakat tidak merasakan sama sekali. Ini harus diperhatikan betul,” ujarnya.

Jika pemerintah serius membangun Papua, maka hal yang paling utama dilakukan saat ini adalah secara rendah hati mendengar aspirasi terdalam orang-orang Papua.

Jangan juga, kata dia, setiap gerakan yang dilakukan oleh anak-anak Papua dicurigai sebagai aksi memisahkan diri dari NKRI.

“Ini juga tidak baik, padahal orang-orang papua itu hanya mau didengarkan saja sebenarnya. Dengarkan saja aspirasi mereka yang terdalam, ambil hatinya secara baik, dan tulus lah membangun Papua, bukan membangun di atas kepalsuan. Itu yang sebenarnya anak-anak papua ingini,” pungkasnya. 

Penulis: chaerul umam
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas